Rejuvinasi Intelektualisme Maluku
Izak Y. M. Lattu
“Maluku tidak identik dengan militerisme”, kata teman saya bagi sahabatnya yang baru datang ke Ambon. Pertanyaannya tentang simbol militarisme dalam patung Kapitan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu membuat saya bertanya dalam hati, dimanakah para intelektual Maluku. Tidak salah bila Patung Kapitan Pattimura berdiri di Lapangan Merdeka, jantung Kota Ambon, dan Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang tetapi pejuang Maluku bukan hanya sosok militeristik seperti Kapitan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu yang berdiri dengan parang, salawaku dan tombak. Dimanakah figur Latuharhary, Leimena, Patty dan intelektual Maluku lainnya?
Manusia adalah makhluk simbol seperti kata Ernest Cassier, Animal Symbolicum. Dalam keseluruhan pikiran dan tindakan manusia menggunakan simbol. Seluruh kehidupan manusia ditentukan oleh simbol-simbol personal dan sosial. Karena itu, masyarakat terbentuk dalam jaringan makna yang membangun pengertian dalam masyarakat. Jika di Kota Ambon hanya ditemukan figur-figur militeristik seperti Kapitan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu maka masyarakat Maluku akan teranyam dalam jaringan makna militeristik. Perlu dicatat, saya tidak sedang menggugat kedua figur ini, tetapi berusaha memberikan pula ruang bagi intelektual Maluku di negerinya sendiri.
Simbol-simbol militeristik yang ditempat pada titik-titik strategis di Kota Ambon seperti menjadi pembenaran bahwa masyarakat Maluku adalah masyarakat yang militeristik. Simbol-simbol ini seperti menjelaskan bahwa pahlawan itu pasti muncul dalam sosok yang militerisktik. David Hume menulis, manusia tidak membawa pengetahuan bawaan, tetapi pengetahuan datang dari pengamatan. Pengamatan terhadap simbol-simbol militeristik ini membuat masyarakat terperangkap dalam kesadaran militeristik yang pada akhirnya membentuk masyarakat militeristik pula. Karena itu, jangan heran jika masyarakat Maluku memiliki budaya militeristik/kekerasan yang kuat
Budaya tergantung pada apa yang Pierre Bourdiue sebut sebagai field (lapangan atau konteks) yang di dalamnya teranyam jaringan makna. Jaringan makna ini melahirkan Habitus (cara pandang baru). Dalam pengertian Bourdiue, habitus dibentuk oleh, pertama; pemikiran dan refleksi individu. Kedua, interaksi praksis individu dengan masyarakat di mana dia hidup. Karena itu, Habitus baru sebagai refleksi budaya dapat dilahirkan oleh interaksi masyarakat dan pemaknaan terhadap konteks dan jaringan makna dimana dia berada. Dengan demikian, budaya baru mungkin saja lahir akibat interaksi dalam konteks yang berbeda.
Bagaimana kita dapat mengharapkan sebuah habitus baru yang anti kekerasan sedangkan figur-figur pahlawan dalam bentuk patung-patung pahlawan di Kota Ambon adalah simbol militeristik? Refleksi pribadi dalam interaksi dengan masyarakat dibangun dalam kerangka refleksi militeristik. Karena itu, jangan heran jika habitus masyarakat Maluku adalah kekerasan bukan perdamaian, sebab dalam budaya militeristik terdapat adagium, ”jika menginginkan perdamaian siapkan perang”.
Kita bersyukur bahwa militer juga turut membantu perdamaian di Maluku. Tetapi kita tidak bisa mengandalkan pendekatan dan budaya militeristik dalam membangun perdamaian di Maluku. Pendekatan militeristik hanya dapat menyelesaikan damai dingin (cold peace) dan bukan damai panas (hot peace) menurut Johan Galtung. Dalam damai dingin terdapat sedikit rasa kebencian diantara pihak-pihak yang bertikai tetapi juga kurangnya interaksi menguntungkan antarpihak yang dapat membangun kepercayaan, saling ketergantungan, dan kerjasama, di sini pendekatan militeristik diperlukan untuk menjaga ketegangan tidak meledak menjadi konflik fisik.
Orang basudara di Maluku sedang memasuki fase yang Galtung sebut sebagai damai panas, dimana kerjasama aktif diperlukan untuk menjadi jembatan untuk memperbaiki masa lalu dan membangun masa depan. Karena itu, pendekatan dan budaya militerisktik tidak lagi mendapat tempat yang sentral di Maluku. Adagium yang diperlukan pada fase ini adalah “jika menginginkan perdamaian siapkan dialog dan kerjasama”.
Dalam fase damai panas ini, masyarakat Maluku justru membutuhkan sosok pahlawan dalam sosok intelektual yang bersedia memberikan pemikiran untuk pencerahan masyarakat. Intelektual seperti Leimena yang menggagas konsep Puskesmas misalnya. Dimana jalan Leimena di kota ini? Mengapa ada jalan Diponogero? Apa hubungan Diponegoro dan Maluku? Masuk akal jika jalan itu dikasih nama Slamet Riyadi yang gugur dalam menegakkan Negara Pancasila di Maluku.
Mengherankan bahwa di Kota Ambon yang sarat dengan intelektual pejuang Kemerdekaan Indonesia ini tidak ada satupun sosok pejuang intelektual yang dikedepankan. Masyarakat ini mesti didorong untuk melihat bahwa pahlawan itu tidak hanya dalam figur militeristik, tetapi juga dalam sosok intelektual. Dengan demikian masyarakat akan melihat pendapat Francis Bacon, pengetahuan adalah kekuasaan, bukan senjata adalah kekuasaan. Pengetahuan adalah kekuasaan yang dapat mengubah masyarakat ini menjadi lebih baik, bukan senjata dalam pengertian fisik.
Phenik (1964) menulis, manusia secara esensial ditentukan oleh siapa yang berkuasa untuk menghasilkan makna. Eksistensi manusia juga ditentukan oleh sekumpulan makna yang menjadi contoh. Dengan menggunakan paradigma Phenik, jika makna yang dijadikan contoh dalam masyarakat adalah intelektualisme dan bukan militerisme, maka Masyarakat Maluku akan bertumbuh menjadi masyarakat yang menghargai intelektualitas. Maluku akan memiliki Culture of Peace (budaya damai) budaya yang menurut UNESCO dalam Declaration of a Culture of Peace adalah budaya yang adalah sikap, tindakan, tradisi, dan model perilaku dan cara hidup yang didasarkan pada penghargaan terhadap kehidupan, mengakhiri kekerasan dan mengedepankan tindakan anti kekerasan melalui pendidikan, dialog, dan kerjasama.
Kekerasan bukan kodrat manusia Maluku, saya yakin manusia diciptakan untuk menghadirkan budaya damai di muka bumi Maluku dan Indonesia berdasarkan Pancasila.. Budaya bersifat dinamis, karena itu upaya menghadirkan sebuah budaya damai bagi masyarakat Maluku adalah proses yang menunjukkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat dinamis yang menginginkan kehidupan bersama yang lebih baik.
Sekali lagi saya tidak sedang mengatakan bahwa militer tidak penting, tetapi bagi saya sebaiknya masyarakat Maluku tidak diarahkan untuk menjadi masyarakat militerisktik. Sudah saatnya kita menghargai intelektualisme dalam sosok Latuharhary, Leimena, Patty dan lain-lain. Saya mengusulkan secara konkrit, “bangun juga patung para intelektual pejuang di Kota Ambon jika kita ingin masyarakat ini lebih damai dan intelek”. Katong perlu menghidupkan kembali (rejuvinasi) intelektualisme Maluku. Semoga!
