Tsunami dan Dialog Global Berbasis Suffering Other
Upaya Mencari Jejak-Jejak Dialog Agama Pasca-Tsunami Aceh
Izak Y. M. Lattu
A deep dialogue with other religions will directly produce the development of Christian theology in the future. (Paul Tillich).
Ibadah Malam akhir tahun (31/12/2004) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Tamansari, Salatiga sarat dengan pesan mengenai bencana tsunami. Mulai dari khotbah dan ditutup dengan ajakan untuk memberikan sumbangan dan berdoa bagi mereka yang tertimpa bencana tsunami di berbagai tempat. Ibadah awal Tahun Universitas Kristen Satya Wacana (10/1/2005) bernuansa sama. Civitas akademika diajak membangun sebuah solidaritas kemanusiaan yang beyond religious border, melampaui batas-batas agama, dengan korban musibah tsunami dan umat manusia lain yang memiliki latar sosial yang beragam.
Bencana tsunami sebuah “epic disaster” telah menelan korban ratusan ribu jiwa. Tsunami menjadi bencana dunia, karena melanda beberapa negara dan kawasan sekaligus. Sebagai sebuah bencana dunia. Tsunami membawa dampak lain, yaitu solidaritas dunia terhadap gempa tektonik tersebut. Hampir semua orang dari seluruh dunia, baik yang beragama maupun tidak beragama memberikan uluran tangan guna membantu korban tsunami. Dunia berada dalam satu kesatuan solidaritas yang nyata, bukan solidaritas “Hollywood” seperti dalam film The Independence Day, ketika tentara dari seluruh dunia harus bekerjasama melawan alien yang menyerang bumi.
Tulisan ini bermaksud melihat solidaritas dunia khususnya solidaritas umat bergama yang terjadi dalam penanganan bencana tsunami. Selain itu, tulisan ini bermaksud pula menjelaskan bahwa sebuah dialog pada tataran faktual telah terjadi di wilayah-wilayah yang terkena bencana, khususnya Aceh. Karenanya, tulisan ini akan membahas titik konvergensi agama dan dialog berbasis penderitaan. (more…)