Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural
Izak Y. M. Lattu
Center for Alternative Dispute Resolution (CADRe), UKSW, Salatiga
Peace is not merely the absence of war but the presence of justice, of law ~ in short, of government (Albert Einstein, 1968).
Pengantar: Latar Multikultural Saya
Saya lahir dari keluarga guru yang hangat. Ayah saya tidak pernah menggunakan kata kasar dan tangannya tidak pernah menyakiti Ibu saya. Orang tua saya tidak pernah pelit untuk mengatakan kata sayang pada kami dan tidak sulit memberikan pujian. Meskipun begitu, kritik dan teguran yang membangun tetap deras mengalir dari bibir orang tua saya juga.
Saya besar di lingkungan Perkebunan Terbatas Pemerintah (PTP) dimana lingkungannya adalah lingkungan yang sangat heterogen. Teman-teman bermain saya bernama Atman, Surahman yang dari namanya menunjukkan identitas Jawa mereka. Saya juga punya teman sekolah yang bernama Jefri Tarigan, Paul Sirait yang Batak, Revol Sampe yang Menado, Anshar Lebang yang Makasar, Edi Lomo yang Toraja serta masih banyak teman lain dari Flores, Bali, Ternate dll.
Pengalaman hidup dalam lingkungan yang sangat majemuk ini mempermudah saya untuk memahami kemajemukan budaya. Pengalaman masa kecil yang majemuk tersebut juga mempermudah saya memahami konsep-konsep kemajemukan masyarakat yang dikenal dengan studi multikulturalitas.
Tulisan ini bermaksud menjelaskan apa itu budaya damai? Tulisan ini juga akan menjelaskan tentang konsep multikulturalitas dan mengapa budaya damai perlu dalam sebuah masyarakat multikultural? (more…)