Izak Y. M. Lattu

A blog devoted to Indonesian Religion and Peace Project

Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural

January 31, 2008 by izaklattu · 24 Comments · Articles

Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural

Izak Y. M. Lattu

Center for Alternative Dispute Resolution (CADRe), UKSW, Salatiga

 

Peace is not merely the absence of war but the presence of justice, of law ~ in short, of government (Albert Einstein, 1968).

Pengantar: Latar Multikultural Saya

Saya lahir dari keluarga guru yang hangat. Ayah saya tidak pernah menggunakan kata kasar dan tangannya tidak pernah menyakiti Ibu saya. Orang tua saya tidak pernah pelit untuk mengatakan kata sayang pada kami dan tidak sulit memberikan pujian. Meskipun begitu, kritik dan teguran yang membangun tetap deras mengalir dari bibir orang tua saya juga.

Saya besar di lingkungan Perkebunan Terbatas Pemerintah (PTP) dimana lingkungannya adalah lingkungan yang sangat heterogen. Teman-teman bermain saya bernama Atman, Surahman yang dari namanya menunjukkan identitas Jawa mereka. Saya juga punya teman sekolah yang bernama Jefri Tarigan, Paul Sirait yang Batak, Revol Sampe yang Menado, Anshar Lebang yang Makasar, Edi Lomo yang Toraja serta masih banyak teman lain dari Flores, Bali, Ternate dll.

Pengalaman hidup dalam lingkungan yang sangat majemuk ini mempermudah saya untuk memahami kemajemukan budaya. Pengalaman masa kecil yang majemuk tersebut juga mempermudah saya memahami konsep-konsep kemajemukan masyarakat yang dikenal dengan studi multikulturalitas.

Tulisan ini bermaksud menjelaskan apa itu budaya damai? Tulisan ini juga akan menjelaskan tentang konsep multikulturalitas dan mengapa budaya damai perlu dalam sebuah masyarakat multikultural?

Memahami Makna Budaya dan Damai

Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas dan sulit untuk diberikan makna dan pengertian secara tegas. Makna dan pengertian budaya dapat ditangkap secara berbeda tergantung dari mana kita berdiri dan dengan kacamata apa kita melihat? Meskipun begitu, saya mencoba memberikan perspektif untuk melihat budaya dalam tulisan ini.

Menurut Webster Dictionary budaya (culture) diartikan sebagai: ”the development, improvement and refinement of the mind, emotions, interests, manners, tastes, as well as the arts, ideas, customs and skills of given people in a given period. Kamus Bahasa Inggris Oxford (the Oxford English Dictionary) menambahkan culture (budaya) adalah the intellectual side of civilization. Karena itu, budaya dapat dimaknai sebagai inti dari identitas individu dan kelompok.

Bagi Chris Baker penulis buku Cultural Studies: Theory and Practice, kebudayaan adalah peta saling tumpang tindih dari makna yang saling silang yang membentuk kawasan titik temu sementara (temporal coherency) sebagai suatu milik bersama namun memiliki arti penting dalam ruang sosial. Produksi dan pertukaran makna, atau praktik pemaknaan yang membentuk hal-hal yang bersifat khas dalam cara hidup manusia (Baker, 2000).

Pengertian-pengertian budaya tersebut memberikan tekanan pada budaya sebagai sesuatu yang tidak tetap namun berubah sejalan dengan perkembangan masyarakat. Budaya dan konteks masyarakat budaya saling mempengaruhi satu dengan lain.

Budaya tergantung pada apa yang Pierre Bourdiue sebut sebagai field (lapangan atau konteks) yang di dalamnya teranyam jaringan makna. Jaringan makna ini melahirkan Habitus (cara pandang baru) dalam pengertian Bourdiue (James Michael, 2007). Habitus dibentuk oleh, pertama; pemikiran dan refleksi individu. Kedua, interaksi praksis individu dengan masyarakat di mana dia hidup. Karena itu, Habitus baru sebagai refleksi budaya dapat dilahirkan oleh interaksi masyarakat dan pemaknaan terhadap konteks dan jaringan makna dimana dia berada. Dengan demikian, budaya baru mungkin saja lahir akibat interaksi dalam konteks yang berbeda.

Reardon (1988) menegaskan bahwa damai adalah ketiadaan kekerasan dalam berbagai bentuk, apakah itu bentuk fisik, sosial, psikologis, dan struktural. Bagi O’Kane pengertian Readon adalah pengertian yang menyederhanakan masalah, terlalu pasif dan tidak responsif terhadap cara bagaiman berdamai dengan masa lalu. Damai dalam pengertian di atas juga dapat berpotensi menyebabkan pengabaian terhadap perasaan ketidakpercayaan dan kecurigaan yang dimiliki oleh orang-orang yang terlibat dalam konflik (O’Kane, 1992). Karena itu, pengertian damai yang saya pakai mengikuti pengertian damai menurut Johan Galtung. Bagi Galtung (Woolman, 1985) damai memiliki dua wajah. Pertama, damai yang negatif. Damai yang negatif adalah ketidakadaan perang atau konflik langsung. Damai negatif membutuhkan kontrol kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah melalui pengamanan dan perlindungan. Strateginya adalah melalui pemisahan, sehingga pihak-pihak yang berkonflik tidak bertemu satu dengan lain. Model ini dapat dilakukan dalam situasi konflik baru terjadi, tetapi untuk jangka waktu lama sebaiknya tidak dilakukan. Kedua, damai yang positif. Suasana dimana terdapat kesejahteraan, kebebasan, dan keadilan. Sebabnya, damai hanya dapat terjadi jika terdapat kesejahteraan, kebebasan, dan keadilan di dalam masyarakat. Tanpa itu tidak akan pernah terjadi kedamaian yang sesungguhnya di dalam masyarakat.

Selain tipe damai negatif dan damai positif menurut Galtung, juga terdapat damai (cold peace) dan damai panas (hot peace). Dalam damai dingin terdapat sedikit rasa kebencian diantara pihak-pihak yang bertikai tetapi juga kurangnya interaksi menguntungkan antarpihak yang dapat membangun kepercayaan, salingketergantungan, dan kerjasama. Bagi damai panas, kerjasama aktif diperlukan untuk menjadi jembatan untuk memperbaiki masa lalu dan membangun masa depan. Hal ini membutuhkan titik temu (common ground) dan perhatian bersama terhadap masalah-masalah kemanusiaan yang dialami. Masalah-masalah kemanusiaan tersebut dapat berupa kemiskinan, hak asasi manusia, keterbelakangan pendidikan, persoalan kesehatan, diskriminasi, ketidakadilan, polusi tanah, air dan udara.

Masyarakat Multikultural: Mensyukuri Perbedaan

Perkembangan teknologi informasi berkembang dengan sangat cepat menyebabkan dunia menjadi terasa sempit. Dunia dimana kita tinggal dapat dihubungkan secara cepat oleh teknologi informasi seperti internet, telepon celular dan lain-lain. Dengan demikian, planet Bumi yang secara fisik sangat luas lalu menjadi sebuah Kampung Global (Global Village). Bahkan menurut Thomas L. Friedman (2006), dunia kita ini sekarang sudah datar (the world is flat). Bukan datar dalam pengertian fisik, tetapi datar dalam pengertian komunikasi. Jika dahulu kita tidak bisa bicara dan melihat wajah orang-orang di belahan dunia lain secara langsung, maka dengan teleconference kita bisa langsung melihat dan bicara dengan mereka. Dunia sepertinya sangat datar dan dekat.

Bikhu Parek dalam buku Rethinking Multiculturalism (1999) menjelaskan, masyarakat multikultural adalah masyarakat yang lebih dari dua budaya yang berbeda. Masyarakat yang sangat beragam/majemuk. Masyarakat multikultural memahami perbedaan-perbedaan dalam bentuk; Pertama, masyarakat saling memperkenalkan nilai dan cara pandang yang berbeda. Bahkan mereka menikmati kenyataan bahwa mereka memiliki keyakinan dan praktek keyakinan yang berbeda. Kedua, masyarakat yang kritis terhadap prinsip atau nilai-nilai yang tidak lagi sesuai dengan konteks perkembangan masyarakat. Ketiga, masyarakat yang dapat mengelolah dengan baik perbedaan-perbedaan keyakinan (agama, ideologi, budaya, nilai, dan lain-lain).

Kesadaran multikulturalisme terjadi karena; Pertama, sejarah konflik yang mengerucut pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II telah memakan banyak korban. Perbedaan-perbedaan yang salah dikelolah mengakibatkan persoalan umat manusia yang sangat luar biasa. Karena itu, diperlukan cara baru yang tidak menyebabkan kita jatuh pada lobang yang sama. Kedua, perkembangan sains dan teknologi menyebabkan jarak menjadi nol (j = 0). Dalam dunia http//www (dunia cybernet), kita terkait dalam jaring-jaring informasi yang menyebabkan kita akan selalu terikat untuk terus bertemu dengan budaya dan nilai yang berbeda. Bahkan informasi itu masuk ke dalam tempat tidur kita. Jika tempat tidur mewakili tempat yang paling pribadi dari hidup kita, maka informasi dan teknologi ini telah masuk dalam ruang pribadi kehidupan kita setiap saat. Inilah dunia kita, dunia teknologi dan masyarakat informasi (an information society).

Dalam masyarakat seperti ini, pendekatan menang-menangan tidak bisa lagi dijadikan patokan. Tidak bisa lagi siapa kuat dia menang seperti yang terjadi dalam masyarakat monolog di era penjajahan dulu. Kita harus mengedepankan cara-cara persuasif yang saling menguntungkan sebagai konsekuesi dari hidup dalam sebuah masyarakat dialog. Kita tidak lagi hidup dalam zaman dimana kekerasan yang menjadi jalan keluar terhadap perbedaan, tetapi dialog sebagai jalan keluar. Jika kekerasan yang menjadi alat penyelesaian masalah, maka konflik akan terus terjadi karena sampai kapanpun kita akan bertemu dengan perbedaan. Dengan demikian maka dalam sebuah masyarakat multikultural, perdamaian adalah budaya. Bukan lagi budaya kekerasan.

Membangun Masyarakat Berbudaya Damai

Pengertian budaya dan perdamaian di atas bertemu dalam sebuah makna budaya damai yang dimaknai sebagai pendekatan integral untuk mencegah kekerasan dan konflik berdarah sebagai sebuah upaya menghilangkan budaya kekerasan yang didasarkan pada pendidikan perdamaian, promosi keberlanjutan pembangunan ekonomi dan sosial, penghargaan terhadap hak azasi manusia, kesamaderajatan antara laki-laki dan perempuan, partisipasi demokrasi, toleransi, dan kebebasan arus informasi dan penghentian kegiatan militeristik.

Budaya kekerasan dan budaya damai dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Budaya Kekerasan dan Perang Budaya Damai
N Pecaya pada kekuatan yang didasarkan pada tekanan 1. Pendidikan untuk mencapai budaya perdamaian
N Memiliki musuh 2. Pengertian, toleransi, dan solidaritas
N Pemerintahan otoritarian 3. Partisipasi demokrasi
N Propaganda dan Kerahasiaan 4. Kebebasan aliran informasi
N Militerisktik 5. Tidak militerisktik
N Eksploitasi manusia 6. Hak asasi manusia
N Eksploitasi sumber daya alam 7. Pembangunan berkelanjutan
N Dominasi Laki-Laki 8. Kesamaderajatan Laki-Laki dan Perempuan

UNESCO dalam Declaration of a Culture of Peace menyebutkan bahwa budaya damai adalah sikap, tindakan, tradisi, dan model perilaku dan cara hidup yang didasarkan pada:

§ Menghargai kehidupan, mengakhiri kekerasan dan mengedepankan tindakan anti kekerasan melalui pendidikan, dialog, dan kerjasama.

§ Penghargaan penuh terhadap prinsip-prinsip kedaulatan, integrasi wilayah, kemerdekaan politik negara, dan ketiadaan intervensi pada persoalan internal sebuah negara yang berhubungan dengan Piagam PBB dan hukum internasional.

§ Penghargaan penuh terhadap dan mengedepankan penghargaan terhadap seluruh hak asasi manusia dan kemerdekaan dasar.

§ Komitmen terhadap penyelesaian konflik secara damai.

§ Upaya untuk menemukan kebutuhan pembangunan dan lingkungan tidak hanya saat ini tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

§ Menghargai dan mengedepankan hak-hak pembangunan.

§ Menghargai dan mengedepankan kesamaan hak dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan.

§ Menghargai dan mengedepankan hak-hak setiap orang untuk merdeka ekspresi, pendapat, dan informasi.

§ Mengikuti prinsip-prinsip kebebasan, keadilan, demokrasi, toleransi, solidaritas, kerjasama, penghargaan terhadap kemajemukan, perbedaan budaya, dialog, dan pengertian pada setiap tingkatan masyarakatdan bangsa.

(http://www.unesco.org/cpp/uk/declarations/2000/htm)

Deklarasi budaya damai ini hanya dapat terjadi melalui pendidikan perdamaian yang menekankan pada pendidikan yang mengajarkan anak untuk hidup secara damai dengan sesamanya. Sejak dini anak-anak diajarkan untuk tidak melakukan diskriminasi dan penghinaan terhadap orang lain. Anak-anak justru harus didorong untuk memiliki rasa toleransi dan mencintai sesama manusia dan lingkungannya. Selain itu, deklarasi ini menekankan bahwa anak-anak perlu diajarkan tentang bagaimana menghargai teman bermainnya dan tidak memilih teman hanya karena status sosial, budaya, suku, dan agama yang sama. Anak-anak penting untuk dibesarkan dalam suasana majemuk sehingga dapat menghargai perbedaan.

Epilog: Perdamaian adalah Kodrat Manusia

Konteks masyarakat kita yang sangat majemuk mendorong kita untuk kita untuk menghargai sesama dan hidup dalam kedamaian. Sebab, tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian bangsa-bangsa, tidak ada perdamaian bansa-bangsa tanpa dialog budaya bangsa-bangsa, dan tidak ada dialog budaya tanpa budaya damai. Budaya damai bukan lagi sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan bagi kita, sebab hanya ada dua alternatif, berdamai dan membangun masyarakat dan generasi mendatang yang lebih baik atau berkonflik dan membentuk masyarakat dan menderita dan generasi mendatang yang tanpa masa depan.

Kekerasan bukan kodrat manusia, sebab manusia diciptakan untuk menghadirkan perdamaian di muka bumi. Karena itu, kodrat manusia adalah menjadi alat perdamaian. Olehnya, budaya perdamaian harus dikedepankan. Dalam rangka itu, upaya mencari makna budaya damai baik dalam jaring budaya lokal maupun budaya di luar itu perlu dilakukan. Budaya bersifat dinamis karena itu upaya menghadirkan sebuah budaya damai bagi masyarakat adalah juga proses yang menunjukkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat dinamis yang tidak jauh dari konteks demi kehidupan bersama yang lebih baik. Semoga!

Salatiga, akhir Oktober 2007

24 Comments so far ↓

Leave a Comment