Tahun Baru Dalam Refleksi Anak Negeri Maluku
Tahun Baru Dalam Refleksi Anak Negeri Maluku
Izak Y. M. Lattu
Maluku dalam konteks berbangsa di Indonesia sempat memosisikan diri sebagai the significant factor, faktor penentu yang menyumbang banyak intelektual dan pemikiran. Tercatat nama-nama seperti Patty, Latuharhary, Leimena, Siwabessy, Latumeten, Sitanala dan lain-lain. Sayangnya, peta intelektual Indonesia terakhir tidak lagi tercatat nama anak-anak Maluku.
Apakah ini sebuah skenario peminggiran? Atau memang bukti bahwa kualitas sumber daya manusia Maluku begitu rendah sehingga tidak dapat memberikan warna berarti pada bangsa ini? Tulisan ini tidak berpretensi menjawab pertanyaan itu. Tulisan ini hanya bermasud menggambarkan Maluku dalam global networking dulu dan seberapa Maluku pernah menjadi significant factor dalam peta dunia. Serta, bagaimana tahun baru dalam refleksi kultural dapat memberikan energi menjalani hidup yang lebih baik.
Maluku, Peta Global dan Nasional
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Museu de Macau, Museum Nasional Macau, aroma Ke-Maluku-an begitu kental. Pertama, dalam peta pusat-pusat dunia yang penting pada era kolonial, nama Maluku tercatat dengan huruf besar. Maluku adalah sebuah daerah penting saat itu. Saya mencoba mencari nama Jawa, tetapi tidak menemukan dalam daerah-daerah penting itu. Kedua, ketika saya melihat miniatur kapal Portugis yang dipakai untuk menjelajahi dunia, di sana ada palka khusus untuk pala dan cengkeh yang menurut penjelasan di bawahnya berasal dari Maluku kemudian baru dibudidayakan di Malabar dan Zansibar. Ketiga, dalam penjelasan lain peta perjalanan Portugis, alasannya mengapa Bangsa Barat melakukan perjalanan keliling dunia adalah pencarian untuk menemukan pusat clove and nutmeg, cengkeh dan pala. Kesimpulan dari penjelasan ketiga ini adalah kolonialisasi terjadi karena daya magnetis cengkeh dan pala Maluku.
Antropolog Roy Ellen (2002) menjelaskan, hubungan Maluku dan dunia luar kemungkinan sudah terjadi pada awal-awal pertama masehi bahkan mungkin sebelum itu. Dalam literatur China pada masa itu, Maluku sudah dikenal dengan nama Mei Lu Chu yang terkenal dengan “kaki ayam” sebutan mereka untuk bunga cengkeh. Cengkeh menjadi bahan penting dalam ramuan-ramuan China yang terkenal dengan khaziatnya itu.
Maluku begitu luar biasanya, daya tarik sumber daya Maluku menjadikkannya sebagai situs penting dalam global networking kala itu. Bahkan orang Barat rela bertarung nyawa melewati “Tanjung Harapan”, Afrika Selatan yang terkenal dengan ombaknya yang dasyat hanya karena Maluku. Memang sumber daya ini kemudian menjadi petaka karena Maluku jatuh dari tangan satu penguasa ke penguasa yang lain. Karena sumber daya itu juga anak-anak yang lahir dari kandungan Maluku mencucurkan darah dan air mata. Meskipun begitu setidaknya sumber daya menjadi bukti bahwa Maluku pernah menjadi begitu penting dalam peta dunia.
Dalam goresan tinta sejarah Indonesia, anak-anak Maluku termasuk kelompok awal yang melahirkan nasionalisme Indonesia. Patty dengan Perkumpulan Ambon di Semarang tahun 1909, hanya berselang satu tahun dengan Boedi Oetomo yang didirikan tahun 1908. Setelah dua organisasi ini lahir baru kemudian muncul Organisasi Minahasa, Sumatera, Pasundan dan sebagainya. Putera-puteri terbaik Maluku menjadi elemen penting dalam perjuangan menjadi bangsa Indonesia. Mereka aktor utama, bukan pemeran pengganti. Karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa Maluku adalah elemen penting dan “fondasi” Indonesia. Kita memiliki track record yang tidak terlalu buruk pada bangsa ini, karena kita berada dibarisan depan pembentuk bangsa
Bila saat ini Maluku tidak lagi menjadi faktor penting pada peta dunia, itu konsekuensi dari sebuah perubahan dunia. Tetapi ketika Maluku seakan tidak penting lagi dalam peta politik nasional, ini sebuah anomali. Faktor ekternal mungkin menyumbang, tetapi masalah mendasar sebenarnya terletak pada solidaritas Maluku yang melemah bahkan berada dalam titik terendah. Kita tercabik-cabik dalam solidaritas parokial/primordial/sub-group yang menghabiskan energi yang tidak sedikit.
Dendang Tahun Baru
Tahun baru selalu identik dengan suasana dan sukacita baru. Itulah sebabnya mengapa, waktu saya kecil dulu baik di Hunitetu, Wasia-Sanahu maupun Liang/Awaya, tahun baru selalu identik dengan badendang. Dendang lah mama bilang, mama bilang singgah dolo, singgah di rumah eh tambaru leleyo menjadi refleksi kultural dari sukacita menyambut tahun baru. Meskipun tahun baru itu mengandung rahasiannya sendiri, tetapi berhasil menjadi the cheerful gate, gerbang kebahagian.
Dalam narasi budaya yang saya baca pada tiga tempat ini, Tahun baru adalah momen bersama yang beyond plurality. Ketika saya yang Kristen dan Sariman Wakang yang Muslim berdendang bersama lagu, sio bapa mamaee jangan marah-marahee satu tahun satu kali baru jadi baginie, berpelukan diiringi suara tifa membuktikan bahwa kita menikmati tahun baru sebagai sebuah gerbang kebahagiaan. Sebagai manusia Maluku, refleksi itu dapat ditemukan dalam mekanisme budaya dan impluls sosial seperti ini. Jelas bahwa tahun baru menjadi peristiwa yang melarutkan batas-batas sub-etnis tadi. Tahun baru tidak menjadi peristiwa liturgical satu komunitas religius saja, tetapi menjadi peristiwa dalam komunitas kehidupan. Karena itu, the cheerful gate ini tidak hanya menjadi gerbang sukacita karena kita telah berhasil melewati 365 hari, tetapi sukacita karena masih ada satu tahun berkarya dan hidup bersama lagi dengan orang lain.
Dendang tahun baru dan peristiwa beyond plurality di dalamnya membuktikan, secara natural dan kultural Maluku menyediakan banyak faktor bagi sebuah kehidupan yang baik. Terdapat begitu banyak mekansime budaya yang mampu menjadi the right path bagi terciptanya kehidupan ke-Malukuan yang lebih baik. Mekanisme ini dapat mendorong tahun baru menjadi momentum baku bae (reconciliation) yang real bukan lip service dengan mekanisme budaya, bukan politik.
Potensi budaya Maluku mesti digerakan menjadi aksi, from potential to action. Judi Carter dan G. Smith (2004) menegaskan, penting untuk menyadari potensi dan menggerakannya agar menghadirkan perubahan yang positif. Karena itu diperlukan pertama; pemahaman terhadap potensi dalam aturan sosial yang menjadi golden rule bagi semua elemen masyarakat. Kedua, aksi yang dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan aspek pelayanan (compassion), kejujuran (honesty), kesamaderajatan (equality), penghargaan (respect), antikekerasan (nonviolence), kebaikan kepada orang lain (charity), toleran (tolerance), kerendahan hati (humility), pengampunan (forgiveness) dan disiplin diri (self-discipline).
Dengan demikian tahun baru dapat menjadi awal kebangkitan Maluku. Kebangkitan Manawa dan Mapina/Mahina, Laki-Laki dan perempuan Maluku guna mengembalikan Maluku sebagai significant factor pada peta dunia dan peta nasional. Penderitaan (misery) pada tahun kemarin harus menjadi kapital untuk maju lebih jauh lagi. Bukan untuk kepentingan sub-group, tetapi Maluku. Masalahnya mengutip Garry M. Simpson (2002), a new deal yang sanggup mengikat masyarakat dalam sebuah chain of solidarity, rantai solidaritas harus ditemukan. Maluku secara natural memiliki sesuatu untuk dibanggakan pada aras global, ada banyak juga mekanisme kultural yang mendukung. Problem utama pada faktor sosial khususnya manusia yang berpotensi dan berpretensi menciptakan penderitaan bagi orang lain. Simpson ketika menulis tentang the real life menjelaskan social factor contribute to misery, or at least to it’s distribution. Untuk keluar dari the trap of human factor, jebakan factor kesalahan masnuai ini, diperlukan spiritual inspired. Dengan spiritual inspired orang merasa secara spiritual diinspirasi untuk melakukan yang terbaik bagi diri dan masyarakatnya. Semoga refleksi ke-Malukuan dalam tahun baru menginspirasi kita untuk melakukan yang terbaik bagi Maluku, sehingga Negeri Seribu Pulau bisa menjadi faktor penentu pada dunia setidaknya bangsa.
May 18th, 2008 at 6:59 pm
bagus tulisannya, zak…
September 3rd, 2008 at 11:45 am
Ini menjadi suatu refleksi kultural yang bernas dalam memaknai kebersamaan hidup di Maluku…
April 27th, 2009 at 10:51 pm
wari ee……apa kbr.su lamah seng dgr wari punya kbr..salam wa’ancha