Membaca Individualisme Metropolitas dari cara Memakai Beskap
Tanggal 5 Juli 2009, saya dan istri (Rr. Retno Esti Respati Wirandari) bersama keluarga besar dari pihat istri berkumpul di Gunung Kidul untuk menghadiri acara “ngundu mantu” anak dari Bu De istri saya. Sebagai keluarga Jawa Solo yang masih memakai nama Raden dan Rara, pakaian Jawa adalah keharusan dalam acara seperti ini. Apalagi Solo, bersama dengan Yogya, adalah pusat budaya Jawa warisan Kerajaan Mataram.
Sebagai seorang Ambon Seram yang menikah dengan Rara dari Kasunanan Surakarta, saya merasa perlu mengamati dan belajar dari budaya istri saya. Terutama, karena bagi konsep pernikahan Jawa, suami dan istri adalah sigarining nyawa, belahan jiwa. Sebagai belahan jiwa dari seorang Jawa, sebagian dari jiwa saya adalah Jawa pula, Ambon yang njawani. Karena itu, tidak salah jika saya betul-betul ingin belajar dan mengenali secara kultural budaya belahan jiwa saya.
Namun yang menarik adalah cara memakai beskap yang berbeda antara Bapak mertua saya dan Pak Lik (om). Bapak saya adalah priyayi Jawa yang lahir, besar, menikah dan hidup di Solo. Sedangkan Pak Lik saya adalah priyayi Jawa yang lahir besar, besar, dan menikah di Solo, tetapi hidup di Jakarta. Meskipun lahir dan di besarkan oleh keluarga KRT Wiryopuspo (Eyang Kakung, Kakek) dan Raden Nganten Wiryopuspo (Eyang Putri, Nenek) tetapi lingkungan sosial Jakarta dan Solo membuat refleksi perspektif Bapak dan Pak Lik berbeda.
Bapak dan Pak Lik memang memakai jarik dan beskap yang model dan warnanya sama. Tetapi yang berbeda adalah cara mereka menggunakan jarik tersebut. Bapak harus membutuhkan bantuan Ibu (mertua) untuk menggunakan jarik. Jarik yang beliau pakai pakai harus dililit sedemikian rupa, kemudian diikat dengan rapih oleh seseorang yang membantu proses pemakaiannya. Berbeda dengan Pak Lik yang jariknya sudah di modifikasi dengan rosleting sehingga cara pemakaiannya tidak membutuhkan bantuan orang lain. Dapat dilakukan sendiri.
Dalam pemahaman saya, cara memakai jarik dari Bapak dan Pak Lik adalah refleksi dari konsep sosial Jakarta dan Solo. Kehidupan Jakarta yang metropolis mengusung nilai-nilai individualistis yang tegas. Refleksi konsep Immanuel Kant tentang manusia yang bebas dan otonom sepenuhnya berlaku di Jakarta. Kebebasan individualistik dalam Keadilan model Liberalisme menjadi kekuatan utama kehidupan Jakarta. Kehidupan ideal yang mungkin dicapai dalam konsep Jakarta hanya co-existence, sejauh lu kaga nyenggol gue kita aman-aman saja. Sedangkan fakta sosial Solo adalah realitas hidup dengan solidaritas mekanik yang masih kuat meminjam konsep Durkheim. kohesi sosial begitu kuat. Karena itu, kehidupan yang dibangun adlah hidup yang pro-existence.
Cara pakai jarik dari Bapak dan Pak Lik, dapat dibaca dari model individualistik dan solidaritas yang hidup dalam masyarakat Jakarta dan Solo.