Izak Y. M. Lattu

A blog devoted to Indonesian Religion and Peace Project

Archive for the ‘Articles’


Tahun Baru Dalam Refleksi Anak Negeri Maluku

Tahun Baru Dalam Refleksi Anak Negeri Maluku

Izak Y. M. Lattu

Maluku dalam konteks berbangsa di Indonesia sempat memosisikan diri sebagai the significant factor, faktor penentu yang menyumbang banyak intelektual dan pemikiran. Tercatat nama-nama seperti Patty, Latuharhary, Leimena, Siwabessy, Latumeten, Sitanala dan lain-lain. Sayangnya, peta intelektual Indonesia terakhir tidak lagi tercatat nama anak-anak Maluku.

Apakah ini sebuah skenario peminggiran? Atau memang bukti bahwa kualitas sumber daya manusia Maluku begitu rendah sehingga tidak dapat memberikan warna berarti pada bangsa ini? (more…)

Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural

Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural

Izak Y. M. Lattu

Center for Alternative Dispute Resolution (CADRe), UKSW, Salatiga

 

Peace is not merely the absence of war but the presence of justice, of law ~ in short, of government (Albert Einstein, 1968).

Pengantar: Latar Multikultural Saya

Saya lahir dari keluarga guru yang hangat. Ayah saya tidak pernah menggunakan kata kasar dan tangannya tidak pernah menyakiti Ibu saya. Orang tua saya tidak pernah pelit untuk mengatakan kata sayang pada kami dan tidak sulit memberikan pujian. Meskipun begitu, kritik dan teguran yang membangun tetap deras mengalir dari bibir orang tua saya juga.

Saya besar di lingkungan Perkebunan Terbatas Pemerintah (PTP) dimana lingkungannya adalah lingkungan yang sangat heterogen. Teman-teman bermain saya bernama Atman, Surahman yang dari namanya menunjukkan identitas Jawa mereka. Saya juga punya teman sekolah yang bernama Jefri Tarigan, Paul Sirait yang Batak, Revol Sampe yang Menado, Anshar Lebang yang Makasar, Edi Lomo yang Toraja serta masih banyak teman lain dari Flores, Bali, Ternate dll.

Pengalaman hidup dalam lingkungan yang sangat majemuk ini mempermudah saya untuk memahami kemajemukan budaya. Pengalaman masa kecil yang majemuk tersebut juga mempermudah saya memahami konsep-konsep kemajemukan masyarakat yang dikenal dengan studi multikulturalitas.

Tulisan ini bermaksud menjelaskan apa itu budaya damai? Tulisan ini juga akan menjelaskan tentang konsep multikulturalitas dan mengapa budaya damai perlu dalam sebuah masyarakat multikultural? (more…)

Kemendesakan Pendidikan Perdamaian Agama-Agama

Kemendesakan Pendidikan Perdamaian Agama-Agama

Oleh: Izak Lattu[*]

Beberapa waktu lalu Romo Budi Subanar Ph.D, SJ, Koentjoro Ph.D dan Mayang Diantami berbicara dalam sebuah diskusi berjudul “Perdamaian Harus Masuk Dalam Ajaran Sekolah”. Para pembicara menjelaskan “esensi perdamaian secara konkret harus diajarkan di sekolah dasar. Dengan demikianmurid menghargai perbedaan di antara mereka. Diharapkan ketika hidup di masyarakat, semangat itu tertanam sehingga dapat mengantisipasi konflik akibat perbedaan ras, suku, agama, maupun golongan.

Adalah Farid Esack, Doktor Muslim Afrika Selatan keturunan Malaysia dalam buku “Quran, Liberation and Pluralism”, menekankan pentingnya meninggalkan hubungan I (Saya) dan Thou (anda) menjadi sebuah hubungan yang berbasis solidaritas We (kita). Bagi Esack, pengalaman hidup dalam basis solidaritas tanpa mengenal sekat primordialisme (solidaritas we) seperti yang diusung dalam buku di atas, dialami langsung pada masa kecilny. Masyarakat Afrika Selatan pada masa kecil Esack, hidup dalam sistem apartheid yang diskriminatif. Terutama terhadap orang-orang kulit berwarna dan Afrika. Seluruh keluarga Esack yang berjumlah tujuh orang, dihidupi oleh ibunya yang janda. Kelurganya, kebetulan tinggal, bertetangga dengan keluarga Kristen Afrika, yang kehidupan ekonominya di bawah rata-rata, setali tiga uang dengan keluarga Esack. Untuk menanggung beban ekonomi yang berat, kedua kelurga ini sering melakukan sharing kebutuhan sehari-hari. (more…)

Tsunami dan Dialog Global Berbasis Suffering Others

Tsunami dan Dialog Global Berbasis Suffering Other

Upaya Mencari Jejak-Jejak Dialog Agama Pasca-Tsunami Aceh

Izak Y. M. Lattu

A deep dialogue with other religions will directly produce the development of Christian theology in the future. (Paul Tillich).

Ibadah Malam akhir tahun (31/12/2004) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Tamansari, Salatiga sarat dengan pesan mengenai bencana tsunami. Mulai dari khotbah dan ditutup dengan ajakan untuk memberikan sumbangan dan berdoa bagi mereka yang tertimpa bencana tsunami di berbagai tempat. Ibadah awal Tahun Universitas Kristen Satya Wacana (10/1/2005) bernuansa sama. Civitas akademika diajak membangun sebuah solidaritas kemanusiaan yang beyond religious border, melampaui batas-batas agama, dengan korban musibah tsunami dan umat manusia lain yang memiliki latar sosial yang beragam.

Bencana tsunami sebuah “epic disaster” telah menelan korban ratusan ribu jiwa. Tsunami menjadi bencana dunia, karena melanda beberapa negara dan kawasan sekaligus. Sebagai sebuah bencana dunia. Tsunami membawa dampak lain, yaitu solidaritas dunia terhadap gempa tektonik tersebut. Hampir semua orang dari seluruh dunia, baik yang beragama maupun tidak beragama memberikan uluran tangan guna membantu korban tsunami. Dunia berada dalam satu kesatuan solidaritas yang nyata, bukan solidaritas “Hollywood” seperti dalam film The Independence Day, ketika tentara dari seluruh dunia harus bekerjasama melawan alien yang menyerang bumi.

Tulisan ini bermaksud melihat solidaritas dunia khususnya solidaritas umat bergama yang terjadi dalam penanganan bencana tsunami. Selain itu, tulisan ini bermaksud pula menjelaskan bahwa sebuah dialog pada tataran faktual telah terjadi di wilayah-wilayah yang terkena bencana, khususnya Aceh. Karenanya, tulisan ini akan membahas titik konvergensi agama dan dialog berbasis penderitaan. (more…)

In Search of a Religious Mutual Relation in Moluccas-Indonesia

In Search of a Religious Mutual Relation in Moluccas-Indonesia: [1]

Learning from Pela-Gandong’ Alliance between Muslim Negeri[2] (Latu) – Christian Negeri (Honitetu) [3]

Izak Y. M. Lattu

IASACT 2005

Satya Wacana Christian University, Salatiga-Indonesia

Abstract

This article is a reflection upon my homeland (Moluccas-Indonesia) odyssey when we (Muslim and Christian) faced the conflict for about four years. The article notice some lessons from a painful experience of open religious conflict as a result of religious (Christian) ignorance upon Moluccas culture. The article is based on a simple question, how Moluccan can iron out such a religious conflict? Here, I would like to draw a brief explanation on Pela-Gandong as a Moluccas traditional peaceful mechanism which play a big role during the process of overcoming the conflict. There would be a description about a peaceful relation between two Negeri’s, Christian Negeri (Honitetu) and Muslim Negeri (Latu). Besides, I would like to propose Pela-Gandong as a foundation for Christian Theology of Pluralism which would be affected current effort of reconciliation in Moluccas. (more…)