<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Izak Y. M. Lattu</title>
	<atom:link href="http://izaklattu.edublogs.org/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://izaklattu.edublogs.org</link>
	<description>A blog devoted to Indonesian Religion and Peace Project</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2009 08:38:43 -0400</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Sociology of the Church&#8217; Syllabus by baniz</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2009/10/08/sociology-of-the-church-syllabus/comment-page-1/#comment-39</link>
		<dc:creator>baniz</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 08:38:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/?p=40#comment-39</guid>
		<description>trimakasih kak, kak....silabus agama islam juga tolong di posting. thanx</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>trimakasih kak, kak&#8230;.silabus agama islam juga tolong di posting. thanx</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Religion Syllabus by Math World &#124; Religion Syllabus &#124; Izak Y. M. Lattu</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2009/09/02/religion-syllabus/comment-page-1/#comment-38</link>
		<dc:creator>Math World &#124; Religion Syllabus &#124; Izak Y. M. Lattu</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 09:09:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/?p=35#comment-38</guid>
		<description>[...] Go here to read the rest:  Religion Syllabus &#124; Izak Y. M. Lattu [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Go here to read the rest:  Religion Syllabus | Izak Y. M. Lattu [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Social Ethics Questions by Artha</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2009/06/29/social-ethics-questions/comment-page-1/#comment-37</link>
		<dc:creator>Artha</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 15:02:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/?p=31#comment-37</guid>
		<description>Nama : Arthasasta R. Radja Uly
Nim  : 71 2005 024
Tugas Etika Sosial : Etik Global

1.	How can the different partial ethics such as religious ethics becoming a global ethics?
Agama (ajaran) memiliki peran yang penting dalam hidup manusia di dunia ini. Sebenarnya agama itu memiliki peranan dalam menghadapi persoalan-persoalan dunia, dapat kita akui bahwa agama memiliki kebijaksanaan, pengalaman, penglihatan dan perasaan mengenai hidup dan dunia ini. Agama dapat menjadi arah dari hidup seorang manusia dan dunia ini menuju pada kedamaian, keadilan, dan ketertiban. Namun dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap berbagai bentuk ketidak adilan terhadapnya, agama yang sebenarnya menjadi arah dapat berbalik menjadi negatif menuju jurang kegelapan bagi manusia dan dunia ini. Agama (penganutnya) dapat menghancurkan dunia ini, menimbulkan perpecahan dan peperangan, persoalan lainnya di dunia ini. Agama (ajaran, pemimpin dan penganutnya) dapat menjadi suatu etik global, asalkan dalam diri agama tersebut telah tumbuh kesadaran akan tanggung jawabnya terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, agama tersebut memiliki solodaritas dan mau bekerja sama dengan agama lain, tidak lagi menekankan pada doktrin dan bukan untuk mendominasi agama lain, bukan pula untuk melaksanakan misi agamanya sendiri tetapi ia dapat menjadi etik global ketika kepentingan bersama diutamakan yakni kedamaian, keadilan, ketentraman dalam dunia ini, dengan melaksanakan kasih, pengampunan, kebaikan, ketulusan dan sebagainya.
2.	Why our today world needs a sort of global ethics?
Krisis Global yang terjadi baik sejak dahulu kala hingga sekarang ini seperti persoalan-kejahatan bersifat ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, ekologi dan sebagainya, sudah tidak dapat lagi didiamkan. Keadaan dunia semakin memburuk. Kehidupan manusia pun berubah, kepentingan diri sendiri, ketamakan, kebencian, ketakutan, kecemasan dan lain sebagainya yang nampak dalam diri manusia. Dunia diwarnai oleh tangisan para manusia yang merasa tertindas, dan tertawa licik bagi mereka yang serakah. Dunia seakan terbalik dari yang baik menjadi buruk. 
Dengan keterpurukan ini, dunia membutuhkan ilmu pengetahuan dengan kebijaksanaan, teknologi yang diserati kekuatan spiritual, industri yang dibarengi dengan ekologi, dan demokrasi dengan moral. Dunia membutuhkan etik global yang dapat mengembalikan posisi dunia pada sisi kehidupan baik dan damai, dimana kesejahteraan, kebahagiam bersama itu tercipta. Aapun etik global ini merupakan knsensus fundamental tentang nilai yang mengikat, standar yang tidak bisa diganggu gugat dan sikap personal. Etik global ini menekankan pada kebersamaan dan persatuan agama-agama dalam menanggapi setiap persoalan yang terjadi di dunia ini.
Dengan etik ini, manusia dan agama-agama dapat berdiri bersama-sama menegakkan keadilan, kedamaian, kententraman bersama. Etik global ini menolong manusia dan agama-agama di dunia ini, agar dapat bertanggung jawab terhadap dunia, bertindak bijak dalam segala sesuatu, memperbaharui spiritual masing-masing, berpegang pada prinsip humanisme, dan menjauhkan sikap egois dan keserakahan diri. Dengan demikian maka dunia yang adil, tentram, sejahtera, bahagia, damai pun tercipta.

3.	How the global ethics play role in overcoming conflict around the globe?
Etik global ini dapat bermain peran dalam kehidupan persatuan agama-agama di dunia ini, etik global dapat tercapai jika dalam persatuan agama-agama dunia terdapat rasa solidaritas, terlaksananya dialog antar agama yang membahas setiap permasalahan yang terjadi di dunia, bersifat universal, terbuka dan bersikap kritis terhadap masalah-masalah yang ada, serta menjunjung dan menghargai akan pluralisme agama, ras dan golongan. Etik global nampak dalam kehidupan manusia yang bertanggung jawab terhadap kehidupan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Etik global ditandai dengan sikap kepedulian, bentuk konkret kasih yang tulus, perdamaian dan sebagainya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama : Arthasasta R. Radja Uly<br />
Nim  : 71 2005 024<br />
Tugas Etika Sosial : Etik Global</p>
<p>1.	How can the different partial ethics such as religious ethics becoming a global ethics?<br />
Agama (ajaran) memiliki peran yang penting dalam hidup manusia di dunia ini. Sebenarnya agama itu memiliki peranan dalam menghadapi persoalan-persoalan dunia, dapat kita akui bahwa agama memiliki kebijaksanaan, pengalaman, penglihatan dan perasaan mengenai hidup dan dunia ini. Agama dapat menjadi arah dari hidup seorang manusia dan dunia ini menuju pada kedamaian, keadilan, dan ketertiban. Namun dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap berbagai bentuk ketidak adilan terhadapnya, agama yang sebenarnya menjadi arah dapat berbalik menjadi negatif menuju jurang kegelapan bagi manusia dan dunia ini. Agama (penganutnya) dapat menghancurkan dunia ini, menimbulkan perpecahan dan peperangan, persoalan lainnya di dunia ini. Agama (ajaran, pemimpin dan penganutnya) dapat menjadi suatu etik global, asalkan dalam diri agama tersebut telah tumbuh kesadaran akan tanggung jawabnya terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, agama tersebut memiliki solodaritas dan mau bekerja sama dengan agama lain, tidak lagi menekankan pada doktrin dan bukan untuk mendominasi agama lain, bukan pula untuk melaksanakan misi agamanya sendiri tetapi ia dapat menjadi etik global ketika kepentingan bersama diutamakan yakni kedamaian, keadilan, ketentraman dalam dunia ini, dengan melaksanakan kasih, pengampunan, kebaikan, ketulusan dan sebagainya.<br />
2.	Why our today world needs a sort of global ethics?<br />
Krisis Global yang terjadi baik sejak dahulu kala hingga sekarang ini seperti persoalan-kejahatan bersifat ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, ekologi dan sebagainya, sudah tidak dapat lagi didiamkan. Keadaan dunia semakin memburuk. Kehidupan manusia pun berubah, kepentingan diri sendiri, ketamakan, kebencian, ketakutan, kecemasan dan lain sebagainya yang nampak dalam diri manusia. Dunia diwarnai oleh tangisan para manusia yang merasa tertindas, dan tertawa licik bagi mereka yang serakah. Dunia seakan terbalik dari yang baik menjadi buruk.<br />
Dengan keterpurukan ini, dunia membutuhkan ilmu pengetahuan dengan kebijaksanaan, teknologi yang diserati kekuatan spiritual, industri yang dibarengi dengan ekologi, dan demokrasi dengan moral. Dunia membutuhkan etik global yang dapat mengembalikan posisi dunia pada sisi kehidupan baik dan damai, dimana kesejahteraan, kebahagiam bersama itu tercipta. Aapun etik global ini merupakan knsensus fundamental tentang nilai yang mengikat, standar yang tidak bisa diganggu gugat dan sikap personal. Etik global ini menekankan pada kebersamaan dan persatuan agama-agama dalam menanggapi setiap persoalan yang terjadi di dunia ini.<br />
Dengan etik ini, manusia dan agama-agama dapat berdiri bersama-sama menegakkan keadilan, kedamaian, kententraman bersama. Etik global ini menolong manusia dan agama-agama di dunia ini, agar dapat bertanggung jawab terhadap dunia, bertindak bijak dalam segala sesuatu, memperbaharui spiritual masing-masing, berpegang pada prinsip humanisme, dan menjauhkan sikap egois dan keserakahan diri. Dengan demikian maka dunia yang adil, tentram, sejahtera, bahagia, damai pun tercipta.</p>
<p>3.	How the global ethics play role in overcoming conflict around the globe?<br />
Etik global ini dapat bermain peran dalam kehidupan persatuan agama-agama di dunia ini, etik global dapat tercapai jika dalam persatuan agama-agama dunia terdapat rasa solidaritas, terlaksananya dialog antar agama yang membahas setiap permasalahan yang terjadi di dunia, bersifat universal, terbuka dan bersikap kritis terhadap masalah-masalah yang ada, serta menjunjung dan menghargai akan pluralisme agama, ras dan golongan. Etik global nampak dalam kehidupan manusia yang bertanggung jawab terhadap kehidupan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Etik global ditandai dengan sikap kepedulian, bentuk konkret kasih yang tulus, perdamaian dan sebagainya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Social Ethics Questions by grace mega melatunan</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2009/06/29/social-ethics-questions/comment-page-1/#comment-36</link>
		<dc:creator>grace mega melatunan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 11:25:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/?p=31#comment-36</guid>
		<description>Nama	: Grace Mega Melatunan
NIM	: 712005076
Tugas Etika Sosial: “Etika Global”

Bagaimana mungkin etika parsial yang berbeda seperti contoh etika religius/agama dapat menjadi suatu etika global..?
Agama-agama memang tidak bisa memecahkan masalah lingkungan, ekonomi, politik, sosial yang terjadi secara global, namun agama dapat melakukan perubahan orientasi batin, keutuhan mentalitas hati manusia, dan konversi dari jalan yang salah kepada orientasi kehidupan yang baru. Kekuatan spiritual agama-agama dapat menawarkan makna fundamental akan kepercayaan, landasan makna, standar ultim, dan rumah spiritual. Lebih dari pada itu ada sebuah prinsip dalam banyak tradisi keagamaan yang seyogyanya mengingatkan adanya suatu norma etik yang tidak bisa diganggu gugat dan berlaku universal, tidak membelenggu atau merantai, namun membantu dan mendorong orang-orang untuk menemukan dan merealisasikan kembali arah, orientasi dan makna suatu kehidupan. “apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan kepadamu, jangan lakukan pada orang lain” suatu prinsip yang dapat berlaku secara universal bagi semua wilayah kehidupan, keluarga dan komunitas, ras, bangsa dan agama-agama. Alasan inilah mengapa etika agama dapat menjadi suatu etika global. Lebih daripada itu, etik global bersandar bahwa agama-gama sendiri adalah sebuah fenomena global, oleh sebab itu, dengan sendirinya berhubungan dengan agama brarti berhubungan juga dengan sebuah fenomena yang bersifat global. Globalisasi agama bukan hanya disebabkan karena para pemeluknya ada di setiap penjuru bumi, tetapi karena agama-agama itu sendiri telah menularkan, menggarami, menanamkan nilai, bagi pemeluknya. Maka secara tidak langsung, agama-agamalah yang melandasi kehidupan semua orang di muka bumi ini.

Mengapa dunia kita saat ini memerlukan sejenis etika global..?
Karena dunia kita sedang mengalami krisis fundamental, yakni krisis ekonomi, ekologi, politik, sosial yang terjadi secara global; tidak ada visi yang mendasar sebagai acuan untuk mengambil tindakan dalam  melakukan suatu perubahan, sehingga banyak persoalan yang tidak terpecahkan dan terselesaikan; adanya kelumpuhan politik, kepemimpin politik yang lemah, serta minimnya nilai rasa bagi kesejahteraan bersama; banyaknya pengangguran, kemiskinan, yang berakibat pada meningkatnya tingkat kelaparan; terjadi berbagai ketegangan baik antar jenis kelamin maupun antar generasi; tidak ada kedamaian karena masyarakat hidup dalam berbagai konflik baik konflik sosial, ras, dan etnis; bahkan dalam bidang keagamaan, banyak pemimpin dan umat dari agama-agama menghasut adanya konflik sehingga terjadi penyerangan, adanya fanatisme yang kemudian dapat melahirkan kebencian. Dengan keadaan dunia yang seperti inilah, dimana kehancuran terjadi dimana-mana, tidak adanya kedamaian dalam menata bumi ini, maka disinilah suatu etik dalam ajaran-ajaran agama-agama dunia diharapkan bisa digunakan untuk menanggulangi bahaya global ini. Tentu saja etik tersebut tidak memberikan solusi langsung bagi semua persoalan dunia yang luas ini, namun ia memberikan dasar moral bagi tatanan individu maupun global yang lebih baik. Sebuah visi yang dapat menjauhkan perempuan dan laki-laki dari keputusasaan, serta menjauhkan masyarakat dari kekacauan. Dalam situasi global yang dramatis seperti ini, umat manusia memerlukan visi tentang kehidupan bersama secara damai, tentang kebersamaan di antara berbagai kelompok agama dan wilayah bagi perawatan bumi. Sebuah visi yang didasarkan pada harapan, tujuan, cita-cita dan standar karena apa, karena ada keyakinan tentang adanya suatu kesatuan fundamental manusia sebagai sebuah keluarga di bumi. Dalam hal ini meyakini adanya perwujudan sepenuhnya terhadap martabat pribadi manusia yang intrinsik, kebebasan yang tak boleh dihilangkan dan kesejajaran mendasar bagi semua orang, serta solidaritas diantara sesama manusia. Dari keadaan ini juga, maka perlu disusun sebuah etik yang melandasi kehidupan manusia bagi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Suatu upaya untuk menghidupkan sumber daya moral dan spiritual dari semua kelompok agama dan etik berdasarka persoalan etik dunia.


Bagaimana etika global berperan dalam menanggulangi konflik disekitar bumi..?
Tidak bisa dipungkiri bahwa di belakang pemikiran etika global terdapat sebuah ajakan untuk melangsungkan hubungan dialogis antaragama. Tanpa dialog antaragama sulit sekali untuk bisa menyusun sebuah etik bersama antaragama. Hubungan dialogis antaragama memungkinkan munculnya sebuah pemikiran bersama dalam tataran aksi bersama. Etik adalah sebuah langkah teologis yang tidak mengarah kepada sebuah perumusan doktrin belaka, tetapi sebuah gagasan teologis yang hendak diwujudkan dalam kehidupan nyata dalam masyarakat yang multi-agama dan multi-dimensi. Etik merupakan pelaksanaan dari keyakinan-keyakinan teologis yang hendak dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Etika global berusaha membangun komitmen bersama dalam mengubah dan menyempurnakan masyarakat, termasuk di dalamnya komunitas agama-agama itu sendiri. Etika global tampil untuk mengungkapkan solidaritas yang bercorak kritis terhadap masyarakat dan komunitas agama-agama itu sendiri. Etika global berusaha memberdayakan apa yang sudah lazim bagi agama-agama dunia saat ini, lepas dari segala perbedaan tingkah laku, nilai-nilai moral dan keyakinan dasar yang ada pada masing-masing tradisi. Berusaha menghadirkan batas minimal etik yang dimiliki bersama oleh semua agama dunia. Secara tidak langsung, etika global adalah alarm yang berusaha untuk mengingatkan umat manusia diberbagai penjuru bumi kepada suatu kesadaran kembali yang dapat menjadi awal dari sebuah proses perubahan, bahwa setiap manusia dari berbagai agama, etnis di muka bumi ini harus mampu membangun bumi kepada suatu kehidupan yang lebih baik, dengan adanya saling pengertian yang lebih baik, pandangan hidup yang menguntungkan secara sosial, memberikan penghargaan bahwa masing-masing individu memiliki martabat untuk senantiasa dihargai dan dijunjung tinggi, serta kerjasama antar individu dalam mewujudkan kedamaian sehingga “bumi ini benar-benar dapat menjadi rumah kita bersama”. Komitmen untuk menjalankan hidup tanpa kekerasan dan hormat pada kehidupan, adanya kehidupan yang adil serta solidaritas antar sesama masyarakat, membangun  kehidupan yang tulus dan jujur, adanya kesejajaran hak dan kerjasama antar individu (laki-laki dan perempuan). Inilah peran etika global dalam menyelamatkan dan mengubah bumi untuk menjadi lebih baik. Bumi hanya terselamatkan ketika ada kesadaran para individu maupun kehidupan publik. Bumi tidak akan pernah bisa diubah jika kesadaran individu tidak berubah terlebih dahulu…..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama	: Grace Mega Melatunan<br />
NIM	: 712005076<br />
Tugas Etika Sosial: “Etika Global”</p>
<p>Bagaimana mungkin etika parsial yang berbeda seperti contoh etika religius/agama dapat menjadi suatu etika global..?<br />
Agama-agama memang tidak bisa memecahkan masalah lingkungan, ekonomi, politik, sosial yang terjadi secara global, namun agama dapat melakukan perubahan orientasi batin, keutuhan mentalitas hati manusia, dan konversi dari jalan yang salah kepada orientasi kehidupan yang baru. Kekuatan spiritual agama-agama dapat menawarkan makna fundamental akan kepercayaan, landasan makna, standar ultim, dan rumah spiritual. Lebih dari pada itu ada sebuah prinsip dalam banyak tradisi keagamaan yang seyogyanya mengingatkan adanya suatu norma etik yang tidak bisa diganggu gugat dan berlaku universal, tidak membelenggu atau merantai, namun membantu dan mendorong orang-orang untuk menemukan dan merealisasikan kembali arah, orientasi dan makna suatu kehidupan. “apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan kepadamu, jangan lakukan pada orang lain” suatu prinsip yang dapat berlaku secara universal bagi semua wilayah kehidupan, keluarga dan komunitas, ras, bangsa dan agama-agama. Alasan inilah mengapa etika agama dapat menjadi suatu etika global. Lebih daripada itu, etik global bersandar bahwa agama-gama sendiri adalah sebuah fenomena global, oleh sebab itu, dengan sendirinya berhubungan dengan agama brarti berhubungan juga dengan sebuah fenomena yang bersifat global. Globalisasi agama bukan hanya disebabkan karena para pemeluknya ada di setiap penjuru bumi, tetapi karena agama-agama itu sendiri telah menularkan, menggarami, menanamkan nilai, bagi pemeluknya. Maka secara tidak langsung, agama-agamalah yang melandasi kehidupan semua orang di muka bumi ini.</p>
<p>Mengapa dunia kita saat ini memerlukan sejenis etika global..?<br />
Karena dunia kita sedang mengalami krisis fundamental, yakni krisis ekonomi, ekologi, politik, sosial yang terjadi secara global; tidak ada visi yang mendasar sebagai acuan untuk mengambil tindakan dalam  melakukan suatu perubahan, sehingga banyak persoalan yang tidak terpecahkan dan terselesaikan; adanya kelumpuhan politik, kepemimpin politik yang lemah, serta minimnya nilai rasa bagi kesejahteraan bersama; banyaknya pengangguran, kemiskinan, yang berakibat pada meningkatnya tingkat kelaparan; terjadi berbagai ketegangan baik antar jenis kelamin maupun antar generasi; tidak ada kedamaian karena masyarakat hidup dalam berbagai konflik baik konflik sosial, ras, dan etnis; bahkan dalam bidang keagamaan, banyak pemimpin dan umat dari agama-agama menghasut adanya konflik sehingga terjadi penyerangan, adanya fanatisme yang kemudian dapat melahirkan kebencian. Dengan keadaan dunia yang seperti inilah, dimana kehancuran terjadi dimana-mana, tidak adanya kedamaian dalam menata bumi ini, maka disinilah suatu etik dalam ajaran-ajaran agama-agama dunia diharapkan bisa digunakan untuk menanggulangi bahaya global ini. Tentu saja etik tersebut tidak memberikan solusi langsung bagi semua persoalan dunia yang luas ini, namun ia memberikan dasar moral bagi tatanan individu maupun global yang lebih baik. Sebuah visi yang dapat menjauhkan perempuan dan laki-laki dari keputusasaan, serta menjauhkan masyarakat dari kekacauan. Dalam situasi global yang dramatis seperti ini, umat manusia memerlukan visi tentang kehidupan bersama secara damai, tentang kebersamaan di antara berbagai kelompok agama dan wilayah bagi perawatan bumi. Sebuah visi yang didasarkan pada harapan, tujuan, cita-cita dan standar karena apa, karena ada keyakinan tentang adanya suatu kesatuan fundamental manusia sebagai sebuah keluarga di bumi. Dalam hal ini meyakini adanya perwujudan sepenuhnya terhadap martabat pribadi manusia yang intrinsik, kebebasan yang tak boleh dihilangkan dan kesejajaran mendasar bagi semua orang, serta solidaritas diantara sesama manusia. Dari keadaan ini juga, maka perlu disusun sebuah etik yang melandasi kehidupan manusia bagi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Suatu upaya untuk menghidupkan sumber daya moral dan spiritual dari semua kelompok agama dan etik berdasarka persoalan etik dunia.</p>
<p>Bagaimana etika global berperan dalam menanggulangi konflik disekitar bumi..?<br />
Tidak bisa dipungkiri bahwa di belakang pemikiran etika global terdapat sebuah ajakan untuk melangsungkan hubungan dialogis antaragama. Tanpa dialog antaragama sulit sekali untuk bisa menyusun sebuah etik bersama antaragama. Hubungan dialogis antaragama memungkinkan munculnya sebuah pemikiran bersama dalam tataran aksi bersama. Etik adalah sebuah langkah teologis yang tidak mengarah kepada sebuah perumusan doktrin belaka, tetapi sebuah gagasan teologis yang hendak diwujudkan dalam kehidupan nyata dalam masyarakat yang multi-agama dan multi-dimensi. Etik merupakan pelaksanaan dari keyakinan-keyakinan teologis yang hendak dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Etika global berusaha membangun komitmen bersama dalam mengubah dan menyempurnakan masyarakat, termasuk di dalamnya komunitas agama-agama itu sendiri. Etika global tampil untuk mengungkapkan solidaritas yang bercorak kritis terhadap masyarakat dan komunitas agama-agama itu sendiri. Etika global berusaha memberdayakan apa yang sudah lazim bagi agama-agama dunia saat ini, lepas dari segala perbedaan tingkah laku, nilai-nilai moral dan keyakinan dasar yang ada pada masing-masing tradisi. Berusaha menghadirkan batas minimal etik yang dimiliki bersama oleh semua agama dunia. Secara tidak langsung, etika global adalah alarm yang berusaha untuk mengingatkan umat manusia diberbagai penjuru bumi kepada suatu kesadaran kembali yang dapat menjadi awal dari sebuah proses perubahan, bahwa setiap manusia dari berbagai agama, etnis di muka bumi ini harus mampu membangun bumi kepada suatu kehidupan yang lebih baik, dengan adanya saling pengertian yang lebih baik, pandangan hidup yang menguntungkan secara sosial, memberikan penghargaan bahwa masing-masing individu memiliki martabat untuk senantiasa dihargai dan dijunjung tinggi, serta kerjasama antar individu dalam mewujudkan kedamaian sehingga “bumi ini benar-benar dapat menjadi rumah kita bersama”. Komitmen untuk menjalankan hidup tanpa kekerasan dan hormat pada kehidupan, adanya kehidupan yang adil serta solidaritas antar sesama masyarakat, membangun  kehidupan yang tulus dan jujur, adanya kesejajaran hak dan kerjasama antar individu (laki-laki dan perempuan). Inilah peran etika global dalam menyelamatkan dan mengubah bumi untuk menjadi lebih baik. Bumi hanya terselamatkan ketika ada kesadaran para individu maupun kehidupan publik. Bumi tidak akan pernah bisa diubah jika kesadaran individu tidak berubah terlebih dahulu…..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Tahun Baru Dalam Refleksi Anak Negeri Maluku by syaipudin sapsuha</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2008/01/31/tahun-baru-dalam-refleksi-anak-negeri-maluku/comment-page-1/#comment-35</link>
		<dc:creator>syaipudin sapsuha</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 15:51:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/2008/01/31/tahun-baru-dalam-refleksi-anak-negeri-maluku/#comment-35</guid>
		<description>wari ee......apa kbr.su lamah seng dgr wari punya kbr..salam wa&#039;ancha</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wari ee&#8230;&#8230;apa kbr.su lamah seng dgr wari punya kbr..salam wa&#8217;ancha</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural by bembenk</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2008/01/31/budaya-damai-dalam-masyarakat-multikultural/comment-page-1/#comment-34</link>
		<dc:creator>bembenk</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 02:00:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/2008/01/31/budaya-damai-dalam-masyarakat-multikultural/#comment-34</guid>
		<description>caken...!
ceneng x jd km,..
   
     bembenk pgn no hp nya km atUH ..!

     di tunggu ych...
inga....T...
                                      OC..!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>caken&#8230;!<br />
ceneng x jd km,..</p>
<p>     bembenk pgn no hp nya km atUH ..!</p>
<p>     di tunggu ych&#8230;<br />
inga&#8230;.T&#8230;<br />
                                      OC..!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Question for Theology of Religions by Madlyne Vivian Aunalal</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2008/02/25/question-for-theology-of-religions/comment-page-1/#comment-33</link>
		<dc:creator>Madlyne Vivian Aunalal</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 14:44:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/2008/02/25/question-for-theology-of-religions/#comment-33</guid>
		<description>Model Penggantian
Umat Kristiani umumnya banyak belajar dan mendalami isi Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, dalam menggerakkan, melestarikan, dan mengarahkan kehidupan dan identitas komunitas Evangelikal. Hal ini menunjukkan bahwa umat Kristiani adalah mereka yang menimba baik kebenaran maupun kehidupan dari Roh yang mereka temukan dari Firman Tuhan yang tertulis. Umat Kristiani percaya bahwa Perjanjian Baru merupakan kesaksian dari para pengikut dan anggota komunitas Yesus mula-mula tentang apa yang diajarkan Yesus kepada mereka dan bagaimana ia membaharui kehidupan mereka. Bagi mereka, hal ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga suatu visi yang mengisi pikiran mereka dengan cara baru dalam menatap kehidupan dan sekaligus memberdayakan seluruh keberadaan mereka untuk hidup seperti itu. Kesaksian ini bersifat normatif dalam pengertian  bahwa Perjanjian Baru mengacu pada tujuan maupun juga berbagai parameter untuk sampai pada tujuan itu dan yang berfungsi menetapkan maupun membatasi. Umat Kristiani harus tetap mendasari berbagai teologi mereka tentang agama-agama lain dan mendasari usaha mereka untuk berdialog dengan umat beragama lain atas kesaksian Perjanjian Baru. Artinya, teologi agama-agama apapun yang ingin disebut teologi Kristiani harus dibimbing oleh Alkitab, terutama Perjanjian Baru. Panganut Evangelikal mengingatkan umat Kristiani bahwa dalam usaha untuk menjawab tantangan pluralisme agama, umat Kristiani harus tetap mendasari berbagai teolog mereka tentang agama-agama lain atas kesaksian Perjanjian Baru (Alkitab). Di antara begitu banyak materi yang tersedia untuk membangun satu teologi agama-agama, Alkitab harus memperoleh posisi kualitas yang superior. Sebagai akibatnya : suatu teologi agama-agama yang didasari atas Alkitab tidak akan bertentangan dengan kesaksian alkitabiah. 
	Di dalam model penggantian terdapat pesan yang nyaring dan terus menerus didengungkan, yaitu bahwa kejahatan itu nyata dan karena itu pertolongan dibutuhkan. Pemahaman penganut Evangelikal tentang “hanya oleh iman” membuat mereka menyatakan bahwa manusia bisa dilupakan hanya saat berada dalam bahaya, sesuatu yang tidak menyenangkan, dll. Ketika kita mengakui bahwa kita adalah “orang berdosa” atau orang yang “jatuh” berarti kita juga mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan dan bahwa alasan yang masuk akal dan kemauan baik dari mereka tidak otomatis mejamin kemajuan. Ada keterbatasan yang menakutkan dan berbahaya, dari pengetahuan dan kemampuan manusia. Namun, penganut Evangelikal menambahkan bahwa ada suatu Kuasa yang lebih Tinggi (Higher Power), suatu Kenyataan Ilahi (Divine Reality), yang bisa menolong kita, mungkin juga menyelamatkan kita, dan memampukan kita menjangkau melebihi keterbatasan kita sendiri. Untuk mengalami Kuasa ini kita harus lebih dahulu mengakui keterbatasan dan ketidakmampuan kita. Kita harus terbuka dan percaya (hanya oleh iman) terhadap Realitas ini, karena hanya dengan begitu kita dapat merasakan pikiran kita dicerahkan dan usaha kita diberdayakan.
	Bagi banyak orang di zaman postmoderen saat ini, anggapan bahwa Yesus adalah satu-satunya Anak Allah dan Juruselamat sangat diragukan dan tertalu berani (penganut Evangelikal). Namun, penganut Evangelikal menentang pernyataan tersebut. Jika menyangkal hal tersebut berarti secara fatal mengurangi kualitas tradisi Kristiani karena anggapan inilah yang merupakan jantung, kekuatan andalan, dari pewartaan Kristiani. Umat Kristiani perlu menyampaikan kepada orang lain apa yang bagi mereka pribadi dan bagi komunitas secara histories dianggap pasti : bahwa di dalam Yesus kita menemukan jawaban Tuhan atas semua masalah yang ada di dalam hati manusia. Umat Kristiani Evangelikal menawarkannya sebagai satu undangan – untuk melihat apa maksudnya dan bagaimana rasanya kecocokannya dengan usaha manusia. 
	Menurut Karl Barth, agama adalah sebuah ketidakpercayaan. Semua agama harus mengalami reformasi dari hari ke hari, karena secara mencolok maupun tersembunyi, berusaha membuat dirinya, kredonya, peraturannya, ibadahnya lebih penting daripada wahyu dan pengalaman yang seharusnya diperhatikan dan diteruskan oleh agama kepada sesama. “Prinsip Protestan” sangat penting untuk dijadikan peringatan terhadap sikap korup seseorang, terhadap teologi ataupun dialog antar agama apa saja, karena semua umat beragama yang berbicara satu sama laindan berusaha membangun “komunitas dari komunitas” yang baru, untuk tidak melupakan karya agama sepanjang abad. Agama semestinya menjadi inspirasi pembangun kedamaian dan bukan malah sebagi penyebab penderitaan dalam kehidupan manusia. Di dalam kenyataannya, agama hanya memuntahkan lebih banyak kebencian daripada kasih. 	

	
Nama		: Madlyne Vivian Aunalal
NIM		        : 712006028
Mata Kuliah	: Teologi Agama – Agama

THEOLOGY OF RELATIONSHIP
Dalam pembahasan tentang Theology Of Relationship, tergambar jelas mengenai apa yang dimaksudkan dengan teologi yang sebenarnya, dan bagaimana teologi kita sekarang ini. Awalnya penceramah setuju dengan  pendapan John Hick tentang teologi, bahwa kita hanya harus memiliki satu teologi saja karena kita marupakan satu komunitas. Namun kemudian ia tidak setuju dengan pernyataannya sebelumnya, dengan alasan bahwa di dunia ini kita terdiri dari banyak orang  dengan berbagai latar belakang kehidupan, suku bangsa, agama, budaya, dll. Karena itu kita harus membutuhkan banyak teologi. Hal ini tidak berarti kita harus merubah teologi kita melainan kita meresponi perbedaan tersebut. Perbedaan ini bukan dilihat sebagai suatu tantangan dalam kehidupan orang beragama akan tetapi harus dilihat sebagai “God’s imoesty”. Di dalam keseragaman hidup itulah  kesatuan dicapai (Peolples Theology). Teologi merupakan dasar dari teologi liberal dan juga menjadi dasar bagi rekonsiliasi. (re – conciliare). Teologi pembebasan di Amerika Latin ini terjadi karena masyarakat merasa miskin dan itindas oleh gereja. di India, kemiskinan terjai karena keseragaman yang ada di daerah tersebut. Karena itu, maka fungsi Henry Martyn Institute ialah sebagai cara gereja melakukan rekonsiliasi dan menolong gereja (termasuk agama lain) untuk melakukan tugas mereka sebagai komunitas pencinta kedamaian. India memahami rekonsiliasi sebagai proses perjuangan untuk merobah orang-orang penindas dan yang ditindas untuk menjadikan hubungan mereka sebagai suatu struktur yang adil karena rekonsiliasi melibatkan stuktur. Teologi dibutuhkan melalui aksi dan refleksi. Teolgi bisa terjadi dengan cara bagaimana kita mendengar apa yang dikatakan banyak orang kemudian kita memahaminya serta bertanya pada kehendak Tuhan. Dengan begitu kita menjadi berubah dari awalnya berpikir teologi kepada melakukan teologi itu sendiri. Yang dibuthkan hanyalah keterlibatan kita dan komitmen kita untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Pemindahan atau penggantian teologi dapat dilakukan dengan agama, budaya dan sejarah  sebagai sarananya untuk memahami pemikiran-pemikiran Tuhan lewat penciptaan. Pemindahan teologi ini juga dapat membawa kita pada rekonsiliasi karena itu kita harus mampun melewati batas-batas yang dipaksakan. Hal ini jelas tidak mudah karena kita hanya ingin merubah orang lain sesuai dengan keinginan kita sendiri dan tidak memahami kehidupan orang tersebut. Kita tidak bisa melihat apa yang dikehendaki Tuhan lewat keseragaman ini. Yang kita butuhkan hanyalah bekerja sama dan mejalin hubungan baik dengan sesama kita walaupun kita jelas berbeda status, agama, ras, suku, dll. Hal ini jelas tidak mudah, apalagi bagi umat Muslim untuk menerima kita dengan segala doktrin-doktrin yang ada dalam gereja kita, karena itu hal yang perlu kita lakukan ialah meninggalkan doktrin-doktrin kita tersebut ketika kita melakukan perjumpaan dengan mereka. Theology Relationship = Reconsiliation ; harus berpihak dan saling memahami diantara sesama manusia.  Kita bergerak atau keluar dari teologi yang eksklusif kepada teologi yang inklusif. Dengan begitu kita dapat mengakui cara yang berbeda-beda dari masing-masing kita (Islam, Hindu, dll). Dengan begitu kita dapat memahami Tuhan dengan lebih baik dan sempurna.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Model Penggantian<br />
Umat Kristiani umumnya banyak belajar dan mendalami isi Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, dalam menggerakkan, melestarikan, dan mengarahkan kehidupan dan identitas komunitas Evangelikal. Hal ini menunjukkan bahwa umat Kristiani adalah mereka yang menimba baik kebenaran maupun kehidupan dari Roh yang mereka temukan dari Firman Tuhan yang tertulis. Umat Kristiani percaya bahwa Perjanjian Baru merupakan kesaksian dari para pengikut dan anggota komunitas Yesus mula-mula tentang apa yang diajarkan Yesus kepada mereka dan bagaimana ia membaharui kehidupan mereka. Bagi mereka, hal ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga suatu visi yang mengisi pikiran mereka dengan cara baru dalam menatap kehidupan dan sekaligus memberdayakan seluruh keberadaan mereka untuk hidup seperti itu. Kesaksian ini bersifat normatif dalam pengertian  bahwa Perjanjian Baru mengacu pada tujuan maupun juga berbagai parameter untuk sampai pada tujuan itu dan yang berfungsi menetapkan maupun membatasi. Umat Kristiani harus tetap mendasari berbagai teologi mereka tentang agama-agama lain dan mendasari usaha mereka untuk berdialog dengan umat beragama lain atas kesaksian Perjanjian Baru. Artinya, teologi agama-agama apapun yang ingin disebut teologi Kristiani harus dibimbing oleh Alkitab, terutama Perjanjian Baru. Panganut Evangelikal mengingatkan umat Kristiani bahwa dalam usaha untuk menjawab tantangan pluralisme agama, umat Kristiani harus tetap mendasari berbagai teolog mereka tentang agama-agama lain atas kesaksian Perjanjian Baru (Alkitab). Di antara begitu banyak materi yang tersedia untuk membangun satu teologi agama-agama, Alkitab harus memperoleh posisi kualitas yang superior. Sebagai akibatnya : suatu teologi agama-agama yang didasari atas Alkitab tidak akan bertentangan dengan kesaksian alkitabiah.<br />
	Di dalam model penggantian terdapat pesan yang nyaring dan terus menerus didengungkan, yaitu bahwa kejahatan itu nyata dan karena itu pertolongan dibutuhkan. Pemahaman penganut Evangelikal tentang “hanya oleh iman” membuat mereka menyatakan bahwa manusia bisa dilupakan hanya saat berada dalam bahaya, sesuatu yang tidak menyenangkan, dll. Ketika kita mengakui bahwa kita adalah “orang berdosa” atau orang yang “jatuh” berarti kita juga mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan dan bahwa alasan yang masuk akal dan kemauan baik dari mereka tidak otomatis mejamin kemajuan. Ada keterbatasan yang menakutkan dan berbahaya, dari pengetahuan dan kemampuan manusia. Namun, penganut Evangelikal menambahkan bahwa ada suatu Kuasa yang lebih Tinggi (Higher Power), suatu Kenyataan Ilahi (Divine Reality), yang bisa menolong kita, mungkin juga menyelamatkan kita, dan memampukan kita menjangkau melebihi keterbatasan kita sendiri. Untuk mengalami Kuasa ini kita harus lebih dahulu mengakui keterbatasan dan ketidakmampuan kita. Kita harus terbuka dan percaya (hanya oleh iman) terhadap Realitas ini, karena hanya dengan begitu kita dapat merasakan pikiran kita dicerahkan dan usaha kita diberdayakan.<br />
	Bagi banyak orang di zaman postmoderen saat ini, anggapan bahwa Yesus adalah satu-satunya Anak Allah dan Juruselamat sangat diragukan dan tertalu berani (penganut Evangelikal). Namun, penganut Evangelikal menentang pernyataan tersebut. Jika menyangkal hal tersebut berarti secara fatal mengurangi kualitas tradisi Kristiani karena anggapan inilah yang merupakan jantung, kekuatan andalan, dari pewartaan Kristiani. Umat Kristiani perlu menyampaikan kepada orang lain apa yang bagi mereka pribadi dan bagi komunitas secara histories dianggap pasti : bahwa di dalam Yesus kita menemukan jawaban Tuhan atas semua masalah yang ada di dalam hati manusia. Umat Kristiani Evangelikal menawarkannya sebagai satu undangan – untuk melihat apa maksudnya dan bagaimana rasanya kecocokannya dengan usaha manusia.<br />
	Menurut Karl Barth, agama adalah sebuah ketidakpercayaan. Semua agama harus mengalami reformasi dari hari ke hari, karena secara mencolok maupun tersembunyi, berusaha membuat dirinya, kredonya, peraturannya, ibadahnya lebih penting daripada wahyu dan pengalaman yang seharusnya diperhatikan dan diteruskan oleh agama kepada sesama. “Prinsip Protestan” sangat penting untuk dijadikan peringatan terhadap sikap korup seseorang, terhadap teologi ataupun dialog antar agama apa saja, karena semua umat beragama yang berbicara satu sama laindan berusaha membangun “komunitas dari komunitas” yang baru, untuk tidak melupakan karya agama sepanjang abad. Agama semestinya menjadi inspirasi pembangun kedamaian dan bukan malah sebagi penyebab penderitaan dalam kehidupan manusia. Di dalam kenyataannya, agama hanya memuntahkan lebih banyak kebencian daripada kasih. 	</p>
<p>Nama		: Madlyne Vivian Aunalal<br />
NIM		        : 712006028<br />
Mata Kuliah	: Teologi Agama – Agama</p>
<p>THEOLOGY OF RELATIONSHIP<br />
Dalam pembahasan tentang Theology Of Relationship, tergambar jelas mengenai apa yang dimaksudkan dengan teologi yang sebenarnya, dan bagaimana teologi kita sekarang ini. Awalnya penceramah setuju dengan  pendapan John Hick tentang teologi, bahwa kita hanya harus memiliki satu teologi saja karena kita marupakan satu komunitas. Namun kemudian ia tidak setuju dengan pernyataannya sebelumnya, dengan alasan bahwa di dunia ini kita terdiri dari banyak orang  dengan berbagai latar belakang kehidupan, suku bangsa, agama, budaya, dll. Karena itu kita harus membutuhkan banyak teologi. Hal ini tidak berarti kita harus merubah teologi kita melainan kita meresponi perbedaan tersebut. Perbedaan ini bukan dilihat sebagai suatu tantangan dalam kehidupan orang beragama akan tetapi harus dilihat sebagai “God’s imoesty”. Di dalam keseragaman hidup itulah  kesatuan dicapai (Peolples Theology). Teologi merupakan dasar dari teologi liberal dan juga menjadi dasar bagi rekonsiliasi. (re – conciliare). Teologi pembebasan di Amerika Latin ini terjadi karena masyarakat merasa miskin dan itindas oleh gereja. di India, kemiskinan terjai karena keseragaman yang ada di daerah tersebut. Karena itu, maka fungsi Henry Martyn Institute ialah sebagai cara gereja melakukan rekonsiliasi dan menolong gereja (termasuk agama lain) untuk melakukan tugas mereka sebagai komunitas pencinta kedamaian. India memahami rekonsiliasi sebagai proses perjuangan untuk merobah orang-orang penindas dan yang ditindas untuk menjadikan hubungan mereka sebagai suatu struktur yang adil karena rekonsiliasi melibatkan stuktur. Teologi dibutuhkan melalui aksi dan refleksi. Teolgi bisa terjadi dengan cara bagaimana kita mendengar apa yang dikatakan banyak orang kemudian kita memahaminya serta bertanya pada kehendak Tuhan. Dengan begitu kita menjadi berubah dari awalnya berpikir teologi kepada melakukan teologi itu sendiri. Yang dibuthkan hanyalah keterlibatan kita dan komitmen kita untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Pemindahan atau penggantian teologi dapat dilakukan dengan agama, budaya dan sejarah  sebagai sarananya untuk memahami pemikiran-pemikiran Tuhan lewat penciptaan. Pemindahan teologi ini juga dapat membawa kita pada rekonsiliasi karena itu kita harus mampun melewati batas-batas yang dipaksakan. Hal ini jelas tidak mudah karena kita hanya ingin merubah orang lain sesuai dengan keinginan kita sendiri dan tidak memahami kehidupan orang tersebut. Kita tidak bisa melihat apa yang dikehendaki Tuhan lewat keseragaman ini. Yang kita butuhkan hanyalah bekerja sama dan mejalin hubungan baik dengan sesama kita walaupun kita jelas berbeda status, agama, ras, suku, dll. Hal ini jelas tidak mudah, apalagi bagi umat Muslim untuk menerima kita dengan segala doktrin-doktrin yang ada dalam gereja kita, karena itu hal yang perlu kita lakukan ialah meninggalkan doktrin-doktrin kita tersebut ketika kita melakukan perjumpaan dengan mereka. Theology Relationship = Reconsiliation ; harus berpihak dan saling memahami diantara sesama manusia.  Kita bergerak atau keluar dari teologi yang eksklusif kepada teologi yang inklusif. Dengan begitu kita dapat mengakui cara yang berbeda-beda dari masing-masing kita (Islam, Hindu, dll). Dengan begitu kita dapat memahami Tuhan dengan lebih baik dan sempurna.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Question for Theology of Religions by Madlyne Vivian Aunalal</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2008/02/25/question-for-theology-of-religions/comment-page-1/#comment-32</link>
		<dc:creator>Madlyne Vivian Aunalal</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 14:28:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/2008/02/25/question-for-theology-of-religions/#comment-32</guid>
		<description>Gerald Jacob Tampi
         712006042
Teologi Agama - Agama


Injil sebagai Pusat Kehidupan Kristiani
Umat Kristiani umumnya banyak belajar dan mendalami isi Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, dalam menggerakkan, melestarikan, dan mengarahkan kehidupan dan identitas komunitas Evangelikal. Umat Kristiani percaya bahwa Perjanjian Baru merupakan kesaksian dari para pengikut dan anggota komunitas Yesus mula-mula tentang apa yang diajarkan Yesus kepada mereka dan bagaimana ia membaharui kehidupan mereka. Kesaksian normative yang berfungsi memelihara visi pemberdayaan seluruh kehidupan manusia berarti bahwa Perjanjian Baru mengacu pada tujuan maupun juga berbagai parameter untuk sampai pada tujuan yang diacu pada Perjanjian Baru yang berfungsi menetapkan dan membatasi. Alkitab harus menempati posisi kualitas yang superior, sehingga suatu teologi agama-agama yang didasari atas Alkitab tidak akan bertentangan dengan kesaksian alkitabiah. 
Kenyataan adanya Kejahatan dan Kebutuhan akan Pertolongan
Semua agama mempunyai bahasa atau simbol yang dengannya mereka berusaha menghampiri “sesuatu yang salah” ini: “dosa asal”, atau “penderitaan”(dukkha), atau “kebodohan” (avidya), atau “kelalalian”, atau “ketidakseimbangan”. Orang berdosa atau orang yang “jatuh” berarti juga mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan dan bahwa alasan yang masuk akal dan kemajuan baik dari mereka tidak menjamin kemajuan.Pemahaman yang lain dari penganut Evangelikal mengenai “hanya oleh iman” juga banyak dianggap benar oleh banyak tokoh yang sezaman. Penganut Evangelikal melihat adanya perbedaan yang nyata dan kualitataif antara Tuhan dan kemanusiaan-“suatu elemen misteri radikal yang harus diakui oleh siapa pun yang ingin memahami Tuhan Kristiani”.
Yesus Satu-satunya dan Segalanya     
Anggapan bahwa Yesus adalah satu-atunya Anak Allah dan Juruselamat sangat diragukan dan tertalu berani. Namun, penganut Evangelikal meminta agar kritik semacam ini perlu ditinjau ulang, apakah anggapan semacam ini benar-benar meragukan dan berani. Sikap Evangelikal yang teralu harafiah menafsirkan bebagai anggapan keunikan dalam Perjanjian Baru. Menurut penganut Evangelikal, kualitas tradisi Kristiani merupakan jantung kekuatan andalan dari pewartaan Kristiani. Menurut mereka di dalam Yesus, Tuhan telah mengejutkan manusia, bahwa Tuhan telah menyediakan satu jalan yang jelas dan nyata dalam sejarah kehidupan manusia yang rumit dan penuh kekerasan. Kemanusiaan tidak membutuhkan banyak solusi tetapi satu solusi yang dpaat menggerakan semua manusia untuk dapat melakukan apa yang seharusnya tidak mungkin dilakukan. Disinilah, warta Kristiani tentang satu rahmat dan satu keselamatan yang ditawarkan di dalam satu Yesus, Anak Allah dan Juruselamat, bisa menjadi apa yang manusia butuhkan, dan , di dalam hatinya, mencari. 
Hati – Hati dengan Agama
Karl Barth berpandangan bahwa agama sebagai ketidakpercayaan. Ia berusaha merumuskan apa yang dikatakan orang tentang “prinsip Protestan” – semacam lampu sorot yang terus bergerak di mana reformasi mengerahkan kepada semua agama dengan mengingat bahwa agama bisa sama bahayanya seperti agama diperlukan. Semua agama perlu mengalami reformasi karena secara mencolok maupun tersembunyi, berusaha membuat dirinya lebih penting daripada wahyu dan pengalaman yang seharusnya diperhatikan dan diteruskan oleh agama kepada sesama. Prinsip semacam ini dibutuhkan dalam dialog-dialog anatar-agama secara lebih umum karena semua umat beragama, yang duduk berbicara satu sama lain dan berusaha membangun suatu komunitas dari komunitas yang baru, untuk tidak melupakan karya agama sepanjang abad.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gerald Jacob Tampi<br />
         712006042<br />
Teologi Agama &#8211; Agama</p>
<p>Injil sebagai Pusat Kehidupan Kristiani<br />
Umat Kristiani umumnya banyak belajar dan mendalami isi Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, dalam menggerakkan, melestarikan, dan mengarahkan kehidupan dan identitas komunitas Evangelikal. Umat Kristiani percaya bahwa Perjanjian Baru merupakan kesaksian dari para pengikut dan anggota komunitas Yesus mula-mula tentang apa yang diajarkan Yesus kepada mereka dan bagaimana ia membaharui kehidupan mereka. Kesaksian normative yang berfungsi memelihara visi pemberdayaan seluruh kehidupan manusia berarti bahwa Perjanjian Baru mengacu pada tujuan maupun juga berbagai parameter untuk sampai pada tujuan yang diacu pada Perjanjian Baru yang berfungsi menetapkan dan membatasi. Alkitab harus menempati posisi kualitas yang superior, sehingga suatu teologi agama-agama yang didasari atas Alkitab tidak akan bertentangan dengan kesaksian alkitabiah.<br />
Kenyataan adanya Kejahatan dan Kebutuhan akan Pertolongan<br />
Semua agama mempunyai bahasa atau simbol yang dengannya mereka berusaha menghampiri “sesuatu yang salah” ini: “dosa asal”, atau “penderitaan”(dukkha), atau “kebodohan” (avidya), atau “kelalalian”, atau “ketidakseimbangan”. Orang berdosa atau orang yang “jatuh” berarti juga mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan dan bahwa alasan yang masuk akal dan kemajuan baik dari mereka tidak menjamin kemajuan.Pemahaman yang lain dari penganut Evangelikal mengenai “hanya oleh iman” juga banyak dianggap benar oleh banyak tokoh yang sezaman. Penganut Evangelikal melihat adanya perbedaan yang nyata dan kualitataif antara Tuhan dan kemanusiaan-“suatu elemen misteri radikal yang harus diakui oleh siapa pun yang ingin memahami Tuhan Kristiani”.<br />
Yesus Satu-satunya dan Segalanya<br />
Anggapan bahwa Yesus adalah satu-atunya Anak Allah dan Juruselamat sangat diragukan dan tertalu berani. Namun, penganut Evangelikal meminta agar kritik semacam ini perlu ditinjau ulang, apakah anggapan semacam ini benar-benar meragukan dan berani. Sikap Evangelikal yang teralu harafiah menafsirkan bebagai anggapan keunikan dalam Perjanjian Baru. Menurut penganut Evangelikal, kualitas tradisi Kristiani merupakan jantung kekuatan andalan dari pewartaan Kristiani. Menurut mereka di dalam Yesus, Tuhan telah mengejutkan manusia, bahwa Tuhan telah menyediakan satu jalan yang jelas dan nyata dalam sejarah kehidupan manusia yang rumit dan penuh kekerasan. Kemanusiaan tidak membutuhkan banyak solusi tetapi satu solusi yang dpaat menggerakan semua manusia untuk dapat melakukan apa yang seharusnya tidak mungkin dilakukan. Disinilah, warta Kristiani tentang satu rahmat dan satu keselamatan yang ditawarkan di dalam satu Yesus, Anak Allah dan Juruselamat, bisa menjadi apa yang manusia butuhkan, dan , di dalam hatinya, mencari.<br />
Hati – Hati dengan Agama<br />
Karl Barth berpandangan bahwa agama sebagai ketidakpercayaan. Ia berusaha merumuskan apa yang dikatakan orang tentang “prinsip Protestan” – semacam lampu sorot yang terus bergerak di mana reformasi mengerahkan kepada semua agama dengan mengingat bahwa agama bisa sama bahayanya seperti agama diperlukan. Semua agama perlu mengalami reformasi karena secara mencolok maupun tersembunyi, berusaha membuat dirinya lebih penting daripada wahyu dan pengalaman yang seharusnya diperhatikan dan diteruskan oleh agama kepada sesama. Prinsip semacam ini dibutuhkan dalam dialog-dialog anatar-agama secara lebih umum karena semua umat beragama, yang duduk berbicara satu sama lain dan berusaha membangun suatu komunitas dari komunitas yang baru, untuk tidak melupakan karya agama sepanjang abad.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Paper Examination On Indonesian Social Thought and Theology of Religions Classes by Florensye S Gaspersz (712006034)</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2008/04/05/paper-examination-on-indonesian-social-thought-and-theology-of-religions-classes/comment-page-1/#comment-31</link>
		<dc:creator>Florensye S Gaspersz (712006034)</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 10:53:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/2008/04/05/paper-examination-on-indonesian-social-thought-and-theology-of-religions-classes/#comment-31</guid>
		<description>Nama	: Florensye S Gaspersz
Nim	: 71 2006 034
Tugas	: Teologi Agama-agama

“Model Penggantian”
Wawasan dan Pertanyaan

Wawasan
	Injil sebagai Pusat Kehidupan Kristiani
Kaum Evangelikal adalah kaum yang menafsirkan Alkitab atau menganggap Injil sebagai satu-satunya sumber wahyu Allah, dan umumnya umat Kristiani dari cara Alkitab (Perjanjian Baru) dalam menggerakkan, melestarikan dan mengarahkan kehidupan dan identitas komunitas Evangelikal. Sikap semacam ini merupakan usaha untuk  mengungkapkan identitas diri, atau pembagian tugas, dari pengikutu Yesus Kristus. Injil dipahami dan dianggap sebagai satu-satunya kebenaran secara tertulis, buku di atas semua buku, oleh sebab itu kehidupan Kristiani haruslah terpusat kepada Injil dengan mencontohi Yesus Kristus. Umat Kristiani percaya bahawa kesaksian melalui Perjanjian Baru bukan saja merupakan catatan sejarah tetapi juga sebagai visi dalam menatap kehidupan dan sekaligus memberdayakan seluruh keberadaan mereka. Hal ini berarti bahwa teologi agama-agama apa pun yang ingin disebut teologi Kristiani harus dibimbing oleh Alkitab, terutama Perjanjian Baru. Alkitab menempati posisi kualitas yang superior. 
	Kenyataan Adanya Kejahatan dan Kebutuhan akan Pertolongan
Kejahatan merupakan hal yang nyata oleh sebab itu sangat dibutuhkan pertolongan. Dengan mengabaikan kenyataan yang dalamnya terdapat kejahatan atau egosentris yang merusak adalah mempersulit masalah. Secara Psikologis, sikap ini bisa mengarah kepada pengingkaran kenyataan dan sikap palsu tentang ketidak-terbatasan diri. Pemahaman lain dari penganut Evangelikal mengenai “hanya oleh iman” juga dianggap benar oleh tokoh sezaman: dengan kemampuan sendiri, bahkan dengan kemampuan manusia yang selalu inventif dan terus berkembang, kita tidak mampu benar-benar menyelesaikan masalah. Bagi penganut Evangelikal ada satu kuasa tertinggi (Higher Power), suatu kenyataan Ilahi (Divine Reality) yang dapat menolong kita dan bahkan juga dapat menyelamatkan kita, dan memampukan kita menjangkau melebihi keterbatasan kita sendiri. 

	Yesus Satu-satunya dan Selaganya
Anggapan bahwa Yesus adalah satu-satunya Anak Allah dan Juru Selamat, sangat diragukan pada zaman postmodern sekarang ini. Akan tetapi bagi para penganut Evangelikal, dengan adanya penyangkalan seperti ini itu berarti telah mengurangi kualitas tradisi Kristiani, karena inilah yang merupakan jantung atau akar dari kepercayaan dan pewartaan Kristiani. Kemanusiaan sangat membutuhkan sumber kebenaran dan pemberdayaan yang jelas yang bisa memampukan manusia menemukan suatu solusi bersama bagi masalah-masalah. Kemanusiaan hanya membutuhkan satu kebenaran yang bisa menyatukan manusia dalam satu visi dan harapan bersama. Kemanusiaan hanya membutuhkan satu solusi yang dapat menggerakkan semua manusia untuk dapat melakukan apa yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Di sinilah pewartaan Kristian tentang satu rahmat atau satu keselamatan yang ditawarkan di dalam satu Yesus, Anak Allah dan Juru Selamat, bisa menjadi apa yang manusia butuhkan, dan, di dalam hatinya mencari. Di dalam Yesus kita menemukan jawaban Tuhan atas semua masalah yang ada dalam hati manusia. Namun, harus menghormati agama-agama lain. Seperti kata Volf: “ jika kita memahami pandangan kita sebagai yang benar untuk sementara, kita harus memahami pandangan orang lain sebagai yang mungkin benar.” 
	Hati-hati dengan Agama
Menurut pandangan Barth, yaitu “agama sebagai ketidakpercayaan”, agama bisa sama bahayanya seperti agama diperlukan. Bagi Tillich sebagai “unsur demonis”, di mana agama berusaha mengkungkung Allah dan mengunci keilahian di bawah perlindungan pikiran manusia. Oleh sebab itu semua agama harus mengalami reformasi setiap hari, karena secara mencolok maupun tersembunyi, berusaha membuat dirinya, kredonya, peraturannya, ibadahnya lebih penting dari pada wahyu dan pengalaman yang seharusnya diperhatikan dan diteruskan oleh agama kepada sesama. Pada kenyataannyam, agama yang telah menyebabkan begitu banyak penderitaan dalam kehidupan manusia dan juga telah berfungsi sebagai inspirasi membangun perdamaian. 

Pertanyaan
	Berbagai Sumber Teologi Agama-agama Kristiani
Bagi Barth dan Model Penggantian Total, Alkitab merupakan satu-satunya Firman Tuhan dan karena itu adalah satu-satunya cara yang dipakai untuk melihat agama lain. Akan tetapi para penganut Evangelikal berpendapat bahwa pendekatan semacam ini terlalu sempit untuk melihat yang lain dank arena itu tidak memahami adanya “wahyu umum” di dalam agama-agama lain. Jadi, bagi para penganut Evangelikal, khususnya mereka yang setuju dengan Wolfhart Pannenberg, mengakui bahwa sementara Alkitab menjadi sumber utama untuk memahami yang lain, juga penting untuk mendengarkan dan mempelajari apa yang dikatakan oleh agama-agama lain. Alkitab sendiri menyaksikan hal ini bahwa Tuhan berbicara, melalui rahmat umum kepada agama-agama lain.
	Yesus, Satu-satunya dan Segalanya
Pandangan penganut Evangelikal tentang pemberitaan Yesus sebagai anak Allah, Firman Tuhan dan Juru Selamat “satu-satunya dan segalanya” dalam Perjanjian Baru adalah suatu hal yang sangat kuat. Bagi penganut Evangelikal, Yesus Kristus dibituhkan (secara ontologis) untuk memperbaiki atau menebus keretakan antara Allah dan kemanusiaan: Ia juga dibutuhkan (secara epistemologis) dengan memampukan manusia memahami dan berperilaku di dalam rahmat pemberian Allah melalui iman semata. Dalam pemahaman seperti ini maka timbul bermacam pertanyaan, sehingga harus adanya kemapuan untuk memberikan penjelasan yang tepat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama	: Florensye S Gaspersz<br />
Nim	: 71 2006 034<br />
Tugas	: Teologi Agama-agama</p>
<p>“Model Penggantian”<br />
Wawasan dan Pertanyaan</p>
<p>Wawasan<br />
	Injil sebagai Pusat Kehidupan Kristiani<br />
Kaum Evangelikal adalah kaum yang menafsirkan Alkitab atau menganggap Injil sebagai satu-satunya sumber wahyu Allah, dan umumnya umat Kristiani dari cara Alkitab (Perjanjian Baru) dalam menggerakkan, melestarikan dan mengarahkan kehidupan dan identitas komunitas Evangelikal. Sikap semacam ini merupakan usaha untuk  mengungkapkan identitas diri, atau pembagian tugas, dari pengikutu Yesus Kristus. Injil dipahami dan dianggap sebagai satu-satunya kebenaran secara tertulis, buku di atas semua buku, oleh sebab itu kehidupan Kristiani haruslah terpusat kepada Injil dengan mencontohi Yesus Kristus. Umat Kristiani percaya bahawa kesaksian melalui Perjanjian Baru bukan saja merupakan catatan sejarah tetapi juga sebagai visi dalam menatap kehidupan dan sekaligus memberdayakan seluruh keberadaan mereka. Hal ini berarti bahwa teologi agama-agama apa pun yang ingin disebut teologi Kristiani harus dibimbing oleh Alkitab, terutama Perjanjian Baru. Alkitab menempati posisi kualitas yang superior.<br />
	Kenyataan Adanya Kejahatan dan Kebutuhan akan Pertolongan<br />
Kejahatan merupakan hal yang nyata oleh sebab itu sangat dibutuhkan pertolongan. Dengan mengabaikan kenyataan yang dalamnya terdapat kejahatan atau egosentris yang merusak adalah mempersulit masalah. Secara Psikologis, sikap ini bisa mengarah kepada pengingkaran kenyataan dan sikap palsu tentang ketidak-terbatasan diri. Pemahaman lain dari penganut Evangelikal mengenai “hanya oleh iman” juga dianggap benar oleh tokoh sezaman: dengan kemampuan sendiri, bahkan dengan kemampuan manusia yang selalu inventif dan terus berkembang, kita tidak mampu benar-benar menyelesaikan masalah. Bagi penganut Evangelikal ada satu kuasa tertinggi (Higher Power), suatu kenyataan Ilahi (Divine Reality) yang dapat menolong kita dan bahkan juga dapat menyelamatkan kita, dan memampukan kita menjangkau melebihi keterbatasan kita sendiri. </p>
<p>	Yesus Satu-satunya dan Selaganya<br />
Anggapan bahwa Yesus adalah satu-satunya Anak Allah dan Juru Selamat, sangat diragukan pada zaman postmodern sekarang ini. Akan tetapi bagi para penganut Evangelikal, dengan adanya penyangkalan seperti ini itu berarti telah mengurangi kualitas tradisi Kristiani, karena inilah yang merupakan jantung atau akar dari kepercayaan dan pewartaan Kristiani. Kemanusiaan sangat membutuhkan sumber kebenaran dan pemberdayaan yang jelas yang bisa memampukan manusia menemukan suatu solusi bersama bagi masalah-masalah. Kemanusiaan hanya membutuhkan satu kebenaran yang bisa menyatukan manusia dalam satu visi dan harapan bersama. Kemanusiaan hanya membutuhkan satu solusi yang dapat menggerakkan semua manusia untuk dapat melakukan apa yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Di sinilah pewartaan Kristian tentang satu rahmat atau satu keselamatan yang ditawarkan di dalam satu Yesus, Anak Allah dan Juru Selamat, bisa menjadi apa yang manusia butuhkan, dan, di dalam hatinya mencari. Di dalam Yesus kita menemukan jawaban Tuhan atas semua masalah yang ada dalam hati manusia. Namun, harus menghormati agama-agama lain. Seperti kata Volf: “ jika kita memahami pandangan kita sebagai yang benar untuk sementara, kita harus memahami pandangan orang lain sebagai yang mungkin benar.”<br />
	Hati-hati dengan Agama<br />
Menurut pandangan Barth, yaitu “agama sebagai ketidakpercayaan”, agama bisa sama bahayanya seperti agama diperlukan. Bagi Tillich sebagai “unsur demonis”, di mana agama berusaha mengkungkung Allah dan mengunci keilahian di bawah perlindungan pikiran manusia. Oleh sebab itu semua agama harus mengalami reformasi setiap hari, karena secara mencolok maupun tersembunyi, berusaha membuat dirinya, kredonya, peraturannya, ibadahnya lebih penting dari pada wahyu dan pengalaman yang seharusnya diperhatikan dan diteruskan oleh agama kepada sesama. Pada kenyataannyam, agama yang telah menyebabkan begitu banyak penderitaan dalam kehidupan manusia dan juga telah berfungsi sebagai inspirasi membangun perdamaian. </p>
<p>Pertanyaan<br />
	Berbagai Sumber Teologi Agama-agama Kristiani<br />
Bagi Barth dan Model Penggantian Total, Alkitab merupakan satu-satunya Firman Tuhan dan karena itu adalah satu-satunya cara yang dipakai untuk melihat agama lain. Akan tetapi para penganut Evangelikal berpendapat bahwa pendekatan semacam ini terlalu sempit untuk melihat yang lain dank arena itu tidak memahami adanya “wahyu umum” di dalam agama-agama lain. Jadi, bagi para penganut Evangelikal, khususnya mereka yang setuju dengan Wolfhart Pannenberg, mengakui bahwa sementara Alkitab menjadi sumber utama untuk memahami yang lain, juga penting untuk mendengarkan dan mempelajari apa yang dikatakan oleh agama-agama lain. Alkitab sendiri menyaksikan hal ini bahwa Tuhan berbicara, melalui rahmat umum kepada agama-agama lain.<br />
	Yesus, Satu-satunya dan Segalanya<br />
Pandangan penganut Evangelikal tentang pemberitaan Yesus sebagai anak Allah, Firman Tuhan dan Juru Selamat “satu-satunya dan segalanya” dalam Perjanjian Baru adalah suatu hal yang sangat kuat. Bagi penganut Evangelikal, Yesus Kristus dibituhkan (secara ontologis) untuk memperbaiki atau menebus keretakan antara Allah dan kemanusiaan: Ia juga dibutuhkan (secara epistemologis) dengan memampukan manusia memahami dan berperilaku di dalam rahmat pemberian Allah melalui iman semata. Dalam pemahaman seperti ini maka timbul bermacam pertanyaan, sehingga harus adanya kemapuan untuk memberikan penjelasan yang tepat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Paper Examination On Indonesian Social Thought and Theology of Religions Classes by Florensye S Gaspersz (712006034)</title>
		<link>http://izaklattu.edublogs.org/2008/04/05/paper-examination-on-indonesian-social-thought-and-theology-of-religions-classes/comment-page-1/#comment-30</link>
		<dc:creator>Florensye S Gaspersz (712006034)</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 10:49:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://izaklattu.edublogs.org/2008/04/05/paper-examination-on-indonesian-social-thought-and-theology-of-religions-classes/#comment-30</guid>
		<description>Florensye S Gaspersz
712006034
Tugas Teologi Agama-agama (pembicara Andreas D’Souza)

Henry Martyn Institute ini mulai menunjukkan ekistensinya pada tahun 1930 melalui orang-orang yang merasa dirinya dipanggil untuk melakukan penginjilan di Hyrabad, salah satu kota di India yang kemudian namanya berubah menjadi Institute International Center For Research-Interfait Relation For Reconsiliasi pada tanggal 19 July 1999. Sebelumnya pada tahun 1990 di India sedang terjadi konflik yang ingin menjatuhkan negara bagian. Baik itu penganut Hindu maupun Muslim banyak yang meninggal seperti halnya yang terjadi di Indonesia khususnya Ambon. Keadaan yang terjadi dapat diatasi dengan cara mengembalikan keadaan seperti semula, akan tetapi sulit untuk bisa mengembalikan keadaan yang baik seperti sebelum terjadi konflik, tidak bisa untuk mengembalikan ribuan orang yang menjadi korban dalam konflik tersebut.  Dengan adanya Institute ini yang merupakan organisasi Kristen maka masalah-masalah yang seperti ini sedikit tidaknya akan mandapatkan perhatian.
 Yang menjadi masalah baru yakni terdapat juga kekerasan-kekerasan yang terjadi secara besar-besaran yang mengakibatkan sejumlah orang tidak dapat keluar. Hal ini dilakukan oleh organisasi Kristen yang mana melarang orang-orang Kristen untuk melakukan suatu tindakan missionary sebagai bentuk rekonsiliasi. Bangsa India adalah bangsa yang sama dengan bangsa Indonesia, merupakan Negara multivate dengan jumlah penduduk yang banyak serta memiliki lebih dari satu agama (Hindu, Muslim, Kristen, Buddha. Sebagian besar penduduk yang ada di India adalah orang Galit, yang mana orang-orang ini adalah orang-orang golongan kelas rendah. Dengan adanya keadaan yang demikian maka, tidak menutup kemungkinan adanya ketimpangan dalam hal kewarganegaraan. Orang-orang atau golongan yang berada pada kelas yang paling atas lebih berkuasa dibandingkan dengan orang-orang atau golongan kelas rendah.  Melihat kenyataan diatas maka muncullah Theology of Relationship yang berasal dari Liberal Theology yang dilakukan di Amerika Latin, sebagai bukti perjuangan hak hidup orang-orang berkulit hitam yang merasa diri mereka ditindas. Dengan adanya suatu tindakan rekonsiliasi, keadilan dapat dirasakan bagi orang-orang yang mengalami penderitaan, orang-orang yang ditindas. Sangat dibutuhkan sebuah teologi untuk dapat memberikan kehidupan yang lebih baik. Melalui teologi maka adanya suatu kesadaran untuk mendengarkan suara Tuhan, sehingga adanya kemampuan untuk melakukan pembebasan bagi yang mengalami penderitaan, dan yang mengalami penindasan.
Di Indonesia, agama telah dipakai oleh pemimpin-pemimpin untuk kepentingannya sendiri. Sebagai orang Kristen tentunya diperlukan suatu perubahan dimana kita dapat merasakan keberadaan sedalam-dalamnya apa yang dirasakan orang lain meskipun itu sangat sulit. Kita perlu keluar dari keistimewaan kita dan berbaur dengan agama yang lain sehingga dapat terciptanya suatu hubungan yang dinamis. Sebagaimana yang dikatakan bahwa diluar gereja Katolik tidak ada keselamatan, akan tetapi kita harus mampu untuk memahami bahwa adanya pluralitas keagamaan. Namun, janganlah hendaknya kita menjadikan pluralitas sebagai jembatan pemisah untuk dapat melakukan perubahan yang bermakna. Sebaiknya semua agama harus bersama-sama bergandengan tangan untuk mendaki satu gunung, namun tidak mengurangi keyakianan atau iman dari masing-masing agama.   
Bukti yang sangat nyata yang dapat dilihat di India yaitu melalui kisah hidup dari Mother Theressia yang dengan tangan kecilnya ia mau berbagi dengan orang lain yang sangat membutuhkan perhatian serta orang-orang yang ditindas. Melalui Mother Theressia, maka kita disadarkan untuk dapat berbagi dengan orang-orang disekeliling kita. Bagaimana kehidupan beragama kita saat ini? Bagaimana kehidupan orang Kristen ketika melihat hal-hal yang demikian? Apakah terdapat suatu tindakan nyata yang dilakukan untuk adanya suatu perubahan yang lebih baik?  Sebagai orang Kristen maka sudah sepantasnya kita mempraktekkan kasih yang terdapat dalam ajaran-ajaran kita, sudah sepantasnya kita terbuka untuk melakukan dialog agar dapat memahami agama-agama lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Florensye S Gaspersz<br />
712006034<br />
Tugas Teologi Agama-agama (pembicara Andreas D’Souza)</p>
<p>Henry Martyn Institute ini mulai menunjukkan ekistensinya pada tahun 1930 melalui orang-orang yang merasa dirinya dipanggil untuk melakukan penginjilan di Hyrabad, salah satu kota di India yang kemudian namanya berubah menjadi Institute International Center For Research-Interfait Relation For Reconsiliasi pada tanggal 19 July 1999. Sebelumnya pada tahun 1990 di India sedang terjadi konflik yang ingin menjatuhkan negara bagian. Baik itu penganut Hindu maupun Muslim banyak yang meninggal seperti halnya yang terjadi di Indonesia khususnya Ambon. Keadaan yang terjadi dapat diatasi dengan cara mengembalikan keadaan seperti semula, akan tetapi sulit untuk bisa mengembalikan keadaan yang baik seperti sebelum terjadi konflik, tidak bisa untuk mengembalikan ribuan orang yang menjadi korban dalam konflik tersebut.  Dengan adanya Institute ini yang merupakan organisasi Kristen maka masalah-masalah yang seperti ini sedikit tidaknya akan mandapatkan perhatian.<br />
 Yang menjadi masalah baru yakni terdapat juga kekerasan-kekerasan yang terjadi secara besar-besaran yang mengakibatkan sejumlah orang tidak dapat keluar. Hal ini dilakukan oleh organisasi Kristen yang mana melarang orang-orang Kristen untuk melakukan suatu tindakan missionary sebagai bentuk rekonsiliasi. Bangsa India adalah bangsa yang sama dengan bangsa Indonesia, merupakan Negara multivate dengan jumlah penduduk yang banyak serta memiliki lebih dari satu agama (Hindu, Muslim, Kristen, Buddha. Sebagian besar penduduk yang ada di India adalah orang Galit, yang mana orang-orang ini adalah orang-orang golongan kelas rendah. Dengan adanya keadaan yang demikian maka, tidak menutup kemungkinan adanya ketimpangan dalam hal kewarganegaraan. Orang-orang atau golongan yang berada pada kelas yang paling atas lebih berkuasa dibandingkan dengan orang-orang atau golongan kelas rendah.  Melihat kenyataan diatas maka muncullah Theology of Relationship yang berasal dari Liberal Theology yang dilakukan di Amerika Latin, sebagai bukti perjuangan hak hidup orang-orang berkulit hitam yang merasa diri mereka ditindas. Dengan adanya suatu tindakan rekonsiliasi, keadilan dapat dirasakan bagi orang-orang yang mengalami penderitaan, orang-orang yang ditindas. Sangat dibutuhkan sebuah teologi untuk dapat memberikan kehidupan yang lebih baik. Melalui teologi maka adanya suatu kesadaran untuk mendengarkan suara Tuhan, sehingga adanya kemampuan untuk melakukan pembebasan bagi yang mengalami penderitaan, dan yang mengalami penindasan.<br />
Di Indonesia, agama telah dipakai oleh pemimpin-pemimpin untuk kepentingannya sendiri. Sebagai orang Kristen tentunya diperlukan suatu perubahan dimana kita dapat merasakan keberadaan sedalam-dalamnya apa yang dirasakan orang lain meskipun itu sangat sulit. Kita perlu keluar dari keistimewaan kita dan berbaur dengan agama yang lain sehingga dapat terciptanya suatu hubungan yang dinamis. Sebagaimana yang dikatakan bahwa diluar gereja Katolik tidak ada keselamatan, akan tetapi kita harus mampu untuk memahami bahwa adanya pluralitas keagamaan. Namun, janganlah hendaknya kita menjadikan pluralitas sebagai jembatan pemisah untuk dapat melakukan perubahan yang bermakna. Sebaiknya semua agama harus bersama-sama bergandengan tangan untuk mendaki satu gunung, namun tidak mengurangi keyakianan atau iman dari masing-masing agama.<br />
Bukti yang sangat nyata yang dapat dilihat di India yaitu melalui kisah hidup dari Mother Theressia yang dengan tangan kecilnya ia mau berbagi dengan orang lain yang sangat membutuhkan perhatian serta orang-orang yang ditindas. Melalui Mother Theressia, maka kita disadarkan untuk dapat berbagi dengan orang-orang disekeliling kita. Bagaimana kehidupan beragama kita saat ini? Bagaimana kehidupan orang Kristen ketika melihat hal-hal yang demikian? Apakah terdapat suatu tindakan nyata yang dilakukan untuk adanya suatu perubahan yang lebih baik?  Sebagai orang Kristen maka sudah sepantasnya kita mempraktekkan kasih yang terdapat dalam ajaran-ajaran kita, sudah sepantasnya kita terbuka untuk melakukan dialog agar dapat memahami agama-agama lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
